Minggu, Mei 19, 2024
BerandaInHouseFeatureMengenal Sejarah Angklung yang Menjadi Doodle Google

Mengenal Sejarah Angklung yang Menjadi Doodle Google

Serang, Bantentv.com – Hari Angklung Sedunia diperingati setiap 16 November. Hari Angklung Sedunia dilatarbelakangi oleh diakuinya angklung sebagai karya agung warisan budaya lisan dan nonbendawi manusia oleh United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Penetapan tersebut terjadi pada 16 November 2010 lalu pada pertemuan Fifth Session of the Intergovermental Committee (5.com) yang diadakan di Nairobi, Kenya.

Dilansir dari situs Warisan Bedaya Tak Benda (WBTB) Indonesia, angklung merupakan jenis alat musik kesenian yang terbuat dari bambu yang berasal dari Jawa Barat dan dibunyikan dengan cara digoyangkan. Jenis bambu untuk membuat angklung biasanya dari bambu hitam (awi temen) yang akan berwarna keputihan apabila mengering.

Kata “angklung” berasal dari Bahasa Sunda yaitu “angkleung-angkleungan” yang artinya gerakan pemain angklung dan suara “klung” yang dihasilkannya.

Diketahui angklung sudah ada semenjak zaman Kerajaan Sunda, bahkan telah dimainkan sejak abad ke-7. Alat musik ini dipercaya berasal dari 400 tahun yang lalu di Jawa Barat. Penduduk desa mempercayai bahwa suara bambu bisa menarik perhatian Desi Sri yang merupakan Dewi Padi dan Kemakmuran.

Dahulu angklung tidak dipakai sebagai kesenian murni, tetapi juga sebagai kesenian yang berfungsi untuk upacara ritual keagamaan sebagai pengganti genta (bel) yang dipakai oleh pedanda (pendeta hindu) dalam acara keagamaan. Namun saat ini biasa dimainkan saat upacara tertentu, seperti penanam padi, panen, sampai khitanan.

Alat musik angklung sangat erat dengan adat istiadat, identitas budaya, dan seni di Indonesia. Angklung terus berkembang tak hanya di Jawa Barat, namun di seluruh Pulau Jawa, Kalimantan, hingga Sumatera. (erina/red)

TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

DIBAGIKAN

KOMENTAR