BerandaFeaturedUlasanTak Sekadar Fenomena Langit, Gerhana Bulan Penuh Cerita Mistis dan Legenda

Tak Sekadar Fenomena Langit, Gerhana Bulan Penuh Cerita Mistis dan Legenda

Saluran WhatsApp

Bantentv.com – Gerhana bulan selalu berhasil mencuri perhatian masyarakat di seluruh dunia.

Selain menjadi fenomena astronomi yang menakjubkan, peristiwa ini juga melahirkan beragam mitos dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu hal menarik adalah berbagai mitor Gerhana Bulan yang masih dipercaya hingga kini.

Penjelasan Ilmiah Gerhana Bulan

Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi menutupi satelit alaminya.

Warna kemerahan yang muncul saat fase totalitas merupakan efek pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.

Fenomena ini serupa dengan peristiwa yang membuat langit tampak merah saat matahari terbit dan terbenam. Namun, mitor Gerhana Bulan juga berkembang karena keunikan fenomena ini.

Namun, bagi sejumlah peradaban kuno, bulan yang berubah merah bukan sekadar fenomena optik, melainkan pertanda kosmis. Tidak heran jika mitor Gerhana Bulan terus diwariskan di berbagai budaya.

Mitos Gerhana di Peradaban Inca dan Mesopotamia

Di peradaban Inca, bulan merah diyakini sedang diserang jaguar langit yang hendak memangsanya. Masyarakat setempat berteriak, mengguncang senjata, hingga membuat anjing melolong untuk mengusir makhluk tersebut.

Sementara itu, di Mesopotamia kuno, gerhana dianggap sebagai ancaman bagi raja. Karena sudah mampu memprediksi waktu gerhana, para ahli astronomi kala itu melakukan ritual unik dengan menunjuk “raja pengganti” untuk menerima nasib buruk yang diyakini menyertai gerhana. Setelah peristiwa berlalu, raja asli kembali naik takhta.

Rahu dan Kepercayaan di India

Dalam tradisi Hindu, gerhana bulan dikaitkan dengan sosok Rahu, makhluk yang kepalanya tetap hidup setelah meminum ramuan keabadian.

Dalam legenda, Rahu memburu Matahari dan Bulan sebagai bentuk dendam. Ketika ia berhasil “menelan” Bulan, terjadilah gerhana sebelum akhirnya Bulan muncul kembali.

Di sejumlah wilayah India, gerhana juga dipercaya sebagai pertanda kurang baik. Masyarakat biasanya menutup makanan dan air serta melakukan ritual pembersihan. Perempuan hamil pun dianjurkan untuk membatasi aktivitas tertentu selama gerhana sebagai bentuk perlindungan terhadap janin.

Kisah dari Suku Asli Amerika dan Afrika

Berbeda dengan kisah-kisah tersebut, suku asli Amerika seperti Hupa dan Luiseño di California memandang gerhana sebagai momen ketika bulan sedang sakit atau terluka. Mereka menyanyikan lagu-lagu penyembuhan untuk “memulihkan” bulan yang gelap.

Tak hanya itu, mitor Gerhana Bulan juga membentuk tradisi unik di berbagai belahan dunia.

Legenda lain datang dari masyarakat Batammaliba di Togo dan Benin, Afrika. Gerhana bulan dipandang sebagai pertikaian antara Matahari dan Bulan.

Peristiwa ini justru dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk berdamai dan memperbaiki hubungan antarmanusia.

Pandangan dalam Islam

Dalam ajaran Islam, gerhana tidak dikaitkan dengan takhayul. Umat Muslim dianjurkan memperbanyak doa dan melaksanakan salat gerhana atau salat khusuf sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT serta pengingat atas kebesaran-Nya.

Kini, meski sains telah mampu menjelaskan gerhana bulan secara rinci hingga hitungan detik, pesonanya tetap memikat.

Di balik penjelasan ilmiah, mitor Gerhana Bulan dan cerita lama menjadi cermin bagaimana manusia dari berbagai peradaban berusaha memahami langit dengan cara dan keyakinannya masing-masing.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT
- Advertisment -