BerandaReligiPuasa Arafah Bisa Hapus Dosa 2 Tahun, Benarkah? Ini Penjelasan Hadits dan...

Puasa Arafah Bisa Hapus Dosa 2 Tahun, Benarkah? Ini Penjelasan Hadits dan Ulama

Saluran WhatsApp

Bantentv.com – Bulan Zulhijah menjadi salah satu bulan yang paling dinantikan umat Islam. Selain menjadi waktu pelaksanaan ibadah haji, bulan ini juga dipenuhi berbagai amalan yang memiliki keutamaan besar, salah satunya adalah puasa Arafah yang dilaksanakan setiap tanggal 9 Zulhijah.

Pada hari tersebut, jutaan jemaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah sebagai puncak rangkaian ibadah haji. Sementara itu, umat Islam yang tidak sedang menunaikan haji dianjurkan menjalankan puasa Arafah sebagai ibadah sunnah yang memiliki pahala luar biasa.

Puasa Arafah bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Di balik amalan yang tampak sederhana itu, tersimpan keutamaan besar yang membuat banyak umat Islam menantikannya setiap tahun.

Baca Juga: Pemerintah Resmi Tetapkan Jadwal Haji 2026, Ini Tahapan Lengkapnya

Bahkan, Rasulullah SAW menyebut puasa Arafah sebagai amalan yang dapat menghapus dosa selama dua tahun. Lalu, bagaimana penjelasan hadits tersebut menurut para ulama?

Keutamaan Puasa Arafah dalam Hadits Nabi

Keutamaan puasa Arafah dijelaskan dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim dari Abu Qatadah RA. Ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa Arafah, beliau bersabda:

“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim)

Hadits ini menjadi salah satu dalil utama yang menunjukkan besarnya pahala puasa sunnah pada bulan Zulhijah.

Menurut para ulama, yang dimaksud dengan penghapusan dosa dalam hadits tersebut adalah dosa-dosa kecil, selama seseorang menjauhi dosa besar dan berusaha menjaga ketakwaannya kepada Allah SWT.

Baca Juga: Puncak Haji Dimulai, Jemaah Indonesia Diberangkatkan Bertahap ke Arafah Mulai 8 Dzulhijjah

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa puasa Arafah menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil sebagai bentuk rahmat dan kemurahan Allah kepada hamba-Nya.

Mengapa Puasa Arafah Begitu Istimewa?

Besarnya pahala puasa Arafah tidak terlepas dari kemuliaan hari Arafah itu sendiri. Hari tersebut merupakan puncak ibadah haji ketika jutaan umat Islam berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa hari Arafah termasuk salah satu hari paling mulia dalam kalender Islam. Pada hari itu, rahmat Allah SWT dicurahkan secara luas dan pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya.

Bahkan, Rasulullah SAW menyebut tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka selain hari Arafah.

Baca Juga: Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jum’at, Simak Penjelasannya

Keutamaan tersebut juga berkaitan dengan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah yang sangat dicintai Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari pertama Zulhijah.” (HR Bukhari)

Karena puasa Arafah dilakukan pada salah satu hari paling agung tersebut, maka pahala dan ganjarannya pun menjadi sangat besar.

Makna Dosa Setahun yang Akan Datang

Salah satu bagian hadits yang kerap menimbulkan pertanyaan adalah kalimat “menghapus dosa setahun yang akan datang”.

Sebagian orang bertanya, bagaimana mungkin dosa yang belum dilakukan bisa dihapus?

Para ulama menjelaskan bahwa makna hadits tersebut bukan berarti seseorang bebas melakukan kesalahan di masa depan. Imam Al-Qurthubi menerangkan bahwa Allah SWT akan memberikan perlindungan dan taufik kepada hamba-Nya sehingga lebih terjaga dari berbagai perbuatan dosa pada tahun berikutnya.

Sementara itu, sebagian ulama lainnya menafsirkan bahwa Allah akan memudahkan seseorang untuk bertaubat apabila ia terjatuh dalam kesalahan di masa mendatang.

Baca Juga: Puasa Tarwiyah 2026 Jatuh pada 25 Mei, Ini Niat dan Keutamaannya

Dengan demikian, makna penghapusan dosa tidak dipahami sebagai izin untuk berbuat maksiat, melainkan bentuk kasih sayang Allah agar hamba-Nya semakin dekat kepada jalan kebaikan.

Hari Arafah, Hari Pengampunan dan Dikabulkannya Doa

Hari Arafah memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam. Bahkan, sejumlah ulama tafsir menjelaskan bahwa Allah SWT mengagungkan hari tersebut dalam Al-Qur’an.

Selain itu, hari Arafah juga dikenal sebagai momentum turunnya salah satu ayat penting dalam Al-Qur’an, yakni Surah Al-Maidah ayat 3:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu…”

Menurut sejumlah riwayat, ayat tersebut turun ketika Rasulullah SAW sedang melaksanakan wukuf pada Haji Wada’.

Baca Juga: Jelang Armuzna, Kesiapan Tenda Arafah Capai 90 Persen

Dalam kitab Lathaif Al-Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa hari Arafah merupakan hari pengampunan dosa, pembebasan dari api neraka, dan waktu yang sangat baik untuk memperbanyak doa.

Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah pada hari tersebut, seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, bersedekah, dan memperbanyak istighfar.

Siapa yang Dianjurkan Menjalankan Puasa Arafah?

Mayoritas ulama sepakat bahwa puasa Arafah sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Sebaliknya, bagi jemaah haji yang sedang menjalani wukuf di Arafah, hukum puasa Arafah adalah makruh.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA:

“Rasulullah SAW melarang puasa Arafah bagi orang yang berada di Arafah.” (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Larangan tersebut bertujuan agar jemaah haji tetap memiliki kondisi fisik yang kuat untuk menjalani rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT
- Advertisment -