Bantentv.com – Diperingati sebagai Hari Ular Sedunia setiap tanggal 16 Juli sejak tahun 2009 lalu, merupakan upaya para pecinta hewan reptil khususnya ular dalam mengedukasi masyarakat tentang cara menangani ular.
Diketahui, terdapat 349 jenis ular di dunia, dan 77 jenis diantaranya merupakan ular yang berbisa.
Berdasarkan data dari WHO, diperkirakan 4,5–5,4 juta orang dari seluruh dunia digigit ular setiap tahunnya, yang mana 1,8–2,7 juta di antaranya merupakan envenoming snakebite atau gigitan ular berbisa yang menimbulkan gejala klinis.
Bahkan, WHO juga mencatat bahwa ada lebih dari 100.000 kematian di seluruh dunia setiap tahunnya yang disebabkan oleh komplikasi akibat gigitan ular.
Sementara itu, Kemenkes RI menyebutkan bahwa terdapat sekitar 135.000 kasus gigitan ular setiap tahunnya sepanjang 10 tahun terakhir dengan angka kematian sebesar 10% di Indonesia. Angka tersebut diperoleh dari survei yang dilakukan oleh Indonesia Toxicology Society.
Pada dasarnya, bisa atau racun merupakan upaya ular dalam menyerang musuh atau mangsanya. Itulah sebabnya, ular memiliki naluri untuk menggigit ketika merasa terancam, terlebih jika ada pergerakan manusia secara tiba-tiba di alam liar.
Saat sedang menggigit, ular dapat menyuntikkan racunnya ke dalam tubuh manusia menggunakan gigi berlekuk atau berongga khusus yang disebut dengan taring. Taring tersebut terhubung dengan kelenjar racun di setiap sisi rahang atas ular.
Gejala Akibat Gigitan Ular
Dilansir dari laman Siloam Hospital, gejala akibat digigit ular bisa berbeda-beda, tergantung dari jenis bisa yang dihasilkan ular.
Gejala yang ditimbulkan bisa berupa gejala lokal maupun sistemik. Tingkat keparahannya pun bervariasi, tergantung pada lokasi gigitan dan jumlah bisa ular yang masuk. Berikut uraian lengkap tentang gejala gigitan ular.
Gejala atau efek lokal dari gigitan ular meliputi:
– Memar
– bengkak
– melepuh, dan
– nekrosis yang semuanya terjadi di tempat gigitan.
Sindrom kompartemen akut pada anggota tubuh yang terdampak setelah gigitan, akan terasa seperti nyeri hebat, sensasi abnormal, terasa dingin, tidak berdenyut, dan tidak bergerak.
Sementara efek racun ophthalmia akibat masuknya tetesan atau semprotan racun ke dalam mata, seperti kemerahan, nyeri hebat, gangguan otot kelopak mata, erosi kornea, dan peradangan yang disertai gangguan otot mata.
Gejala atau efek sistemik yang ditimbulkan oleh gigitan ular
Racun yang masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan kegagalan pembekuan darah, kelainan trombosit (keping darah), dan kerusakan dinding pembuluh darah yang bisa memicu terjadinya perdarahan parah (salah satunya perdarahan otak).
Adanya syok yang terjadi akibat perdarahan disertai gangguan otot jantung, perdarahan otak, penyempitan pembuluh darah, infeksi, dan anafilaksis (reaksi daya tahan tubuh).
Kelumpuhan akibat racun yang menyerang bagian saraf dan serat otot.
Kerusakan otot yang ditandai dengan nyeri otot, terutama di bagian leher, badan, dan anggota gerak tubuh. Biasanya juga disertai perubahan warna urine menjadi lebih gelap.
Selain itu, adanya cedera ginjal akut yang dapat disebabkan oleh gangguan tekanan darah rendah, sumbatan akibat trombus atau bekuan darah di pembuluh-pembuluh darah kecil di ginjal, serta kerusakan karena adanya gangguan imun atau efek langsung dari racun.
Qonitah M A