Bantentv.com – Makan makanan pedas sudah menjadi tradisi atau kebiasaan dari masyarakat di Asia khususnya Indonesia. Dengan sering menyantap makanan pedas, lidah jadi terbiasa dengan sensasi pedasnya.
Namun, di balik rasa menggoda dan sensasi panasnya, ternyata makanan pedas memberikan manfaat sekaligus risiko kesehatan.
Menurut Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Dr Karina Rahmadia Ekawidyani, mengungkapkan bahwa pedas yang dihasilkan dari cabai ini memiliki berbagai dampak positif dan negatif dalam mengonsumsinya. Karina juga memberikan tips agar masyarakat dapat menikmatinya dengan aman.
Dr Karina mengatakan, makanan pedas dapat memberikan manfaat bagi tubuh jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Hal ini karena makanan pedas seperti cabai mengandung berbagai zat aktif yang berperan penting bagi kesehatan.
“Cabai banyak mengandung vitamin C dan vitamin A yang berfungsi sebagai antioksidan dan dapat melindungi tubuh dari berbagai serangan penyakit, sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh,” kata Karina dikutip dari laman resmi IPB University.
Baca Juga: Jangan Panik! Begini Cara Efektif Redakan Rasa Pedas di Mulut
Lebih lanjut, ia menjelaskan kandungan capsaicin dalam cabai juga dapat membantu menurunkan berat badan.
“Capsaicin mampu meningkatkan temperatur tubuh dan mempercepat kerja metabolisme, sehingga kalori dalam tubuh lebih cepat terbakar,” imbuhnya.
Selain itu, capsaicin juga terbukti secara ilmiah memiliki berbagai manfaat lain, seperti menghambat pertumbuhan sel kanker tanpa merusak sel sehat di sekitarnya.
Kandungan capcaisin juga memiliki efek analgesik (pereda nyeri) dan anti-inflamasi (anti peradangan), serta berdampak positif pada sistem kardiovaskuler dan metabolik, termasuk memperbaiki profil lipid dan fungsi endotel atau dinding pembuluh darah.
Meski memiliki manfaat, namun makanan pedas juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan atau mengabaikan sinyal dalam tubuh yang menolak akan adanya pedas.
Untuk itu, Karina menyarankan agar berhati-hati dalam mengonsumsi makanan pedas atau cabai.
“Konsumsi berlebihan dapat mengiritasi saluran cerna dan meningkatkan refluks asam lambung yang menyebabkan gejala seperti mulas, sakit perut, kembung, diare hingga muntah,” ungkapnya.
Makanan pedas yang dikonsumsi secara berlebihan juga dapat menimbulkan efek lain seperti insomnia, berkurangnya sensitivitas lidah, bahkan meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif.
“Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi lebih dari 50 gram cabai per hari secara rutin memiliki risiko penurunan kognitif hampir dua kali lebih besar dibandingkan yang mengonsumsi dalam jumlah lebih sedikit,” ujarnya.
Karina juga menjelaskan, bahwa tiap orang memiliki tingkat toleransi yang berbeda terhadap pedas yang diterima. Hal ini dipengaruhi oleh faktor genetik, pengalaman, dan psikologis.
“Capsaicin menstimulasi Receptor Potencial Transient Vanilloid (TRPV1) yang mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak. Setiap individu memiliki tingkat toleransi reseptor yang berbeda. Bahkan, ada orang yang lahir tanpa reseptor ini, sehingga tidak merasakan pedas,” jelasnya.
Toleransi terhadap makanan pedas juga bisa meningkat melalui konsumsi yang rutin. Selain faktor fisiologis, persepsi atau pikiran bahwa makanan terasa sangat pedas juga bisa memengaruhi reaksi seseorang.
Oleh karenanya, Karina juga memberikan beberapa tips agar masyarakat dapat menikmati makanan pedas dengan aman:
1. Hindari makan pedas saat perut kosong.
2. Perhatikan porsi dan batas toleransi pribadi.
3. Jangan makan pedas sebelum tidur.
4. Minum susu setelah mengonsumsi makanan pedas.
5. Pilih cabai dengan tingkat kepedasan ringan, seperti cabai hijau atau paprika.
6. Buang biji cabai dan lapisan tipis yang menempel di dinding buah cabai untuk mengurangi rasa pedas.
7. Konsumsi bersamaan dengan makanan kaya serat atau lemak sehat seperti sayuran, biji-bijian, dan alpukat.
Editor : Erina Faiha