Minggu, Desember 7, 2025
BerandaBeritaKisah Ai, Siswi SMK di Lebak yang Jadi Tulang Punggung Keluarga

Kisah Ai, Siswi SMK di Lebak yang Jadi Tulang Punggung Keluarga

Saluran WhatsApp

Lebak, Bantentv.com – Kisah seorang siswi SMK di Kabupaten Lebak kembali menggambarkan bagaimana persoalan ekonomi masih menjadi tantangan besar bagi sejumlah keluarga.

Entim Mulihati (18), pelajar kelas 3 yang akrab disapa Ai, tinggal di Kampung Singa Agung, Desa Margamulya, Kecamatan Cileles.

Di usianya yang masih remaja, ia harus memikul peran sebagai tulang punggung keluarga sejak ibunya merantau ke Jakarta untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Ai, yang selama ini menempuh pendidikan di SMK, menjalani keseharian yang berat tanpa banyak perhatian dari pihak berwenang, meskipun rumahnya berada dekat dengan kediaman kepala desa.

Putri pertama dari seorang guru mengaji ini menggantikan peran ibunya, Habsah, yang berangkat ke Jakarta sekitar satu bulan lalu demi mencari nafkah dan memperbaiki kondisi rumah mereka yang hampir roboh.

Bangunan rumah yang ditempati Ai memperlihatkan kondisi memprihatinkan. Terbuat dari kayu dan anyaman bambu, rumah tersebut kini miring dan rapuh. Atap bocor di berbagai sudut, kayu yang menopang bangunan lapuk dimakan rayap, dan sebagian area dapur telah runtuh.

Keadaan ini membuat Ai kerap merasa khawatir, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah Cileles.

“Di kamar sudah enggak bisa ditempatin karena bocor. Kalau hujan, saya cari tempat yang bocornya sedikit,” kata Ai.

Sebagai siswi SMK, Ai juga berusaha membantu perekonomian keluarga. Setiap pulang sekolah, ia berkeliling kampung menjajakan es mambo titipan tetangganya

“Kalau ramai dapat Rp20.000, kalau sepi paling Rp10.000. Itu pun harus disetor ke tetangga karena jualannya punya mereka,” ujarnya.

Baca Juga: Ikut Demo, Belasan Pelajar SMK di Lebak Diamankan Polisi

Penghasilan kecil itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian dirinya dan adiknya yang masih duduk di bangku SD, terlebih ketika tidak ada kiriman uang dari sang ibu.

“Kalau enggak dikasih tetangga, ya cari uang dulu,” tambahnya.

Ai menuturkan bahwa ia tidak mengetahui keberadaan ayah kandung maupun ayah tirinya. Selama ini hanya ibunya yang menjadi tumpuan hidup mereka.

“Ibu terpaksa kerja di Jakarta buat ngebiayain sekolah sama benerin rumah. Enggak mungkin kondisi rumah begini terus,” ucapnya.

Walau dibebani banyak tanggung jawab, Ai tetap menjalankan peran ibunya sebagai guru mengaji di kampung.

Usai Asar dan Magrib, ia mengajar anak-anak sekitar sembari tetap menjaga kewajibannya sebagai pelajar SMK.

“Biasanya habis jualan istirahat sebentar. Terus habis Asar ngaji. Malam habis Magrib ngaji lagi,” tuturnya.

“Semoga ibu sehat dan rezekinya lancar,” tutupnya.

Editor Siti Anisatusshalihah
TERKAIT
- Advertisment -