Bantentv.com – Gula putih menjadi salah satu bahan pelengkap makanan dan minuman yang paling sering dikonsumsi masyarakat. Rasanya yang manis kerap digunakan untuk menyeimbangkan cita rasa masakan. Namun, di balik penggunaannya yang luas, gula putih kerap disebut berbahaya bagi kesehatan, bahkan dianggap sebagai racun. Benarkah demikian?
Pandangan tersebut salah satunya disampaikan dalam buku Jurus Sehat Rasulullah karya dr. Zaidul Akbar.
Dalam buku itu dijelaskan bahwa gula pada dasarnya merupakan karbohidrat kompleks saat masih berbentuk alami, seperti pada tebu.
Namun, setelah melalui proses pengolahan panjang, gula berubah menjadi karbohidrat sederhana yang dinilai dapat memicu berbagai masalah kesehatan.
Dr. Zaidul Akbar menjelaskan bahwa konsumsi gula pasir berlebihan dapat memicu lebih dari 70 jenis penyakit.
Beberapa dampak yang disebutkan antara lain:
- Gula menekan imunitas tubuh dan melemahkan pertahanan tubuh terhadap infeksi.
- Gula merusak keseimbangan mineral dalam tubuh, menyebabkan kekurangan chromium dan tembaga (copper) serta menghalangi penyerapan kalsium dan magnesium.
Gula putih diketahui berasal dari perasan tebu atau bit yang diproses melalui tahapan panjang, mulai dari pemanasan, kristalisasi, pemutihan, hingga penambahan bahan tertentu.
Proses tersebut menyebabkan hilangnya vitamin, protein, mineral, dan enzim alami, sehingga yang tersisa hanya karbohidrat murni.
Gangguan Metabolisme dan Risiko Penyakit
Dalam buku yang sama juga dikutip pandangan Dr. William Coda Martin pada tahun 1957. Ia menyebut gula putih sebagai zat berbahaya karena tidak dapat dimanfaatkan tubuh secara optimal tanpa dukungan vitamin, protein, dan mineral yang secara alami seharusnya menyertai karbohidrat.
Menurut penjelasan tersebut, metabolisme karbohidrat murni seperti gula putih dapat menghasilkan zat sisa berupa asam piruvat dan senyawa gula abnormal.
Zat ini disebut dapat mengganggu pernapasan sel, mengurangi pasokan oksigen, dan dalam jangka panjang berpotensi memicu kerusakan sel.
Akumulasi gangguan sel dalam waktu lama dinilai dapat berkontribusi terhadap munculnya penyakit degeneratif, seperti diabetes, penyakit jantung, hingga kanker.
Konsumsi Bijak Jadi Kunci
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa gula putih tidak serta-merta berbahaya jika dikonsumsi secara wajar.
Dengan demikian, anggapan bahwa gula putih disebut racun bukanlah tanpa dasar, namun juga tidak bisa disimpulkan secara mutlak.
Kunci utamanya adalah pola konsumsi yang bijak, membatasi asupan gula, serta tidak menjadikannya konsumsi utama dalam jangka panjang.