BerandaCatatan SekamKetika Kejatuhan Dirayakan

Ketika Kejatuhan Dirayakan

Saluran WhatsApp

Bantentv.com – Hari ini seseorang bisa dipuji. Besok dikritik. Lusa dicemooh. Minggu depan mungkin sudah dilupakan.

Hari ini menjadi bintang. Wawancaranya dicari-cari. Pernyataannya dikutip media. Diundang ke berbagai forum.

Besok bisa berubah. Namanya ramai diperbincangkan. Kekurangannya dibahas. Kesalahannya diungkit.

Begitulah hidup di ruang publik hari ini. Kadang berubah lebih cepat daripada cuaca.

Saya teringat reaksi media sosial saat Kepala BGN Dadan Hindayana dicopot dari jabatannya.

Belum lama pengumuman itu keluar, media sosial langsung ramai.

Ada yang bersyukur.

Ada yang menyindir.

Ada yang membuat meme.

Ada yang menulis komentar seperti baru saja memenangkan sesuatu.

Saya heran.

Begitu kerasnya reaksi netizen merayakan kejatuhan Dadan Hindayana.

Kejatuhannya seperti dirayakan.

Seperti habis menonton pertan­dingan sepak bola. Tim kesayangannya menang pada menit-menit terakhir.

Saya lalu mencoba mengingat-ingat.

Apa karena banyaknya foto menu Makan Bergizi Gratis yang beredar dan dianggap tidak sesuai harapan?

Apa karena kasus keracunan yang sempat muncul di sejumlah daerah?

Apa karena polemik pengadaan kaus kaki yang nilainya diberitakan mencapai miliaran rupiah?

Apa karena motor listrik untuk kepala dapur?

Atau karena berbagai pengadaan lain yang sempat ramai diperbincang­kan. Laptop. Peralatan dapur. Sampai perlengkapan zoom.

Entahlah.

Mungkin karena salah satunya.

Mungkin juga karena semuanya.

Lalu saya teringat satu hal lagi.

DITAHAN Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana saat dilakukan penahanan usai diiperiksa penyidik Kejagung, kemarin
DITAHAN Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana saat dilakukan penahanan usai diiperiksa penyidik Kejagung, kemarin. (NET)

Belum lama sebelum dicopot, Dadan sempat menyampaikan gagasan membuka dapur Makan Bergizi Gratis di Mekkah untuk anak-anak sekolah warga Indonesia yang berada di sana.

Begitu pernyataan itu muncul, komentar bermunculan.

Ada yang mendukung.

Tapi tidak sedikit yang menyindir.

Mungkin karena sebagian orang merasa urusan di sini belum selesai.

Menu masih diperdebatkan.

Kasus keracunan masih dibahas.

Dapur masih menjadi bahan keluhan.

Tiba-tiba pembicaraan sudah sampai Mekkah.

Saya tidak tahu.

Saya hanya membaca apa yang lalu-lalang di linimasa.

Tapi saya percaya satu hal.

Kemarahan publik biasanya tidak datang sekaligus.

Ia menumpuk. Sedikit demi sedikit. Dari satu berita. Lalu berita berikutnya. Lalu perdebatan berikutnya. Lalu polemik berikutnya.

Sampai suatu hari wadahnya penuh. Dan ketika penuh, apa saja bisa menjadi pemicunya.

Mungkin itu yang sedang kita lihat.

Karena yang saya lihat, sebagian orang seperti tidak sedang merayakan pencopotan seorang pejabat.

Mereka sedang melampiaskan sesuatu. Mungkin rasa kesal yang sudah lama disimpan.Mungkin rasa kecewa yang sudah lama terkumpul. Mungkin juga keduanya.

Saya tidak tahu.

Yang saya tahu, jabatan publik memang tempat yang tidak pernah sepi.

Hari ini dipuji. Besok dimarahi. Hari ini dielu-elukan. Besok ditinggalkan.

Kadang yang berubah bukan orangnya. Tetapi suasana hati publik yang memandangnya.

Dan di zaman media sosial, perubahan itu bisa terjadi sangat cepat.

Terlalu cepat. (*)

TERKAIT
- Advertisment -