Pandeglang, Bantentv.com – Dedikasi luar biasa ditunjukkan oleh Armani, seorang guru honorer yang telah mengabdikan dirinya selama belasan tahun di SDN Sorongan 2 Kelas Jauh, yang terletak di Kampung Batu Payung, Desa Sorongan, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang.
Armani merupakan satu-satunya guru di sekolah tersebut. Ia tetap bertahan mengajar meskipun harus menghadapi tantangan infrastruktur yang sangat memprihatinkan.
Setiap pagi, Guru Armani harus menempuh perjalanan berat sejauh kurang lebih 15 kilometer untuk sampai ke sekolah.
Tantangan terberat yang harus ia hadapi adalah menyeberangi dua sungai yang tidak memiliki jembatan memadai.
Salah satunya bahkan hanya menggunakan jembatan darurat yang terbuat dari bambu hasil swadaya masyarakat setempat.
Baca Juga: Karier Giorgio Armani: Berawal Dari Penata Etalase di Milan Hingga Dikenal Dunia Lewat Fashion-nya
Perjalanan ekstrem ini harus dilalui setiap hari demi memastikan siswa-siswanya mendapatkan hak pendidikan.
Tak hanya akses jalan, kondisi sekolah juga sangat minim. Kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan di tengah fasilitas yang jauh dari layak.
Mulai dari lantai yang keramiknya terlepas, plafon ruang kelas yang rusak di berbagai bagian, hingga yang paling memprihatinkan: sekolah tersebut tidak memiliki fasilitas toilet sejak pertama kali didirikan.
“Untuk perjalanan kurang lebih 15 kilo meter, yang 12 kilo ditempuh dengan kendaraan dan yang 3 kilo meter ditempuh dengan jalan kaki, melewati dua sungai, yang satu tidak ada jembatan yang satu alhamdulilah ada jembatan hasil swadaya masyarakat,” ungkapnya.
Armani mengakui, ia telah mengabdikan diri di sekolah pelosok ini sejak tahun 2008 silam.
“Hampir 13 tahun sejak tahun 2008 sampai sekarang diakhir 2025,” katanya Senin, 1 Desember 2025.
Di tengah segala keterbatasan, Armani mengaku semangat belajar yang tinggi dari seluruh siswanya menjadi alasan utama baginya untuk tetap mengabdi.
“Semangat belajar mereka yang membuat saya tidak pernah menyerah. Saya ingin mereka mendapatkan ilmu yang layak, terlepas dari kondisi sekolah kami,” ujar Armani.
Salah satu siswa, Muhamad Pahmi yang bercita-cita menjadi guru ini menyatakan, ia dan teman-temannya selalu bersemangat dalam menuntut ilmu dan berharap agar Guru Armani selalu diberikan kesehatan dan kekuatan untuk terus mengajar.
“Harapannya biar pak guru selalu sehat, semangat dan kuat. Klau cuta-cita saya jadi guru,” harapnya.
Kisah Guru Armani menjadi cerminan tentang betapa pentingnya peran seorang pendidik dalam mencerdaskan anak bangsa, sekaligus menyoroti perlunya perhatian serius pemerintah daerah terhadap pemerataan infrastruktur pendidikan di daerah pelosok Pandeglang.
Editor : Erina Faiha