Serang, Bantentv.com – Rencana pembangunan Giant Sea Wall di pesisir utara Jawa dinilai menjadi peluang besar bagi Kota Serang untuk mengatasi banjir rob sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir.
Namun di balik potensi tersebut, dampak sosial terhadap nelayan dan aktivitas ekonomi warga pesisir menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Serang.
Kepala Bapperida Kota Serang, W Hari Pamungkas, mengatakan pemerintah pusat saat ini tengah memetakan berbagai dampak pembangunan proyek Giant Sea Wall, termasuk terhadap masyarakat nelayan di kawasan Karangantu.
“Sedang dilakukan pendataan aktivitas nelayan dan bisnis di sepanjang pesisir utara, termasuk menghitung ketinggian rob di Karangantu,” ujar Hari dalam diskusi bersama Pokja Wartawan Kota Serang (PWKS) di Cafe Ergana, Kamis 7 Mei 2026.
Baca Juga: Pemkot Serang Latih 2.000 IRT Jadi Wirausaha dari Rumah
Menurutnya, akses dan keberlangsungan aktivitas nelayan menjadi salah satu aspek penting dalam perencanaan proyek tersebut.
Pemerintah pusat bahkan disebut tengah mengkaji kemungkinan relokasi nelayan ke kawasan pulau buatan seluas 1.000 hektare yang akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, termasuk penyulingan air laut.
Hari menilai penanganan banjir rob di Karangantu sudah mendesak sehingga pembangunan Giant Sea Wall di Kota Serang diharapkan bisa diprioritaskan.
“Dalam tahapan pusat ada 13 segmen, dan Kota Serang masuk segmen 1.1. Harapannya bisa lebih dulu karena menyangkut pertimbangan ekonomi dan keselamatan masyarakat,” katanya.
Selain pembangunan tanggul laut raksasa, Pemkot Serang juga mendorong pembangunan bendungan karet untuk mendukung distribusi air bersih ke wilayah Kecamatan Kasemen.
Tak hanya itu, proyek pengembangan pesisir utara disebut berpotensi membuka peluang investasi dan lapangan kerja baru.
Pemkot Serang pun menyiapkan regulasi agar industri yang masuk nantinya lebih banyak menyerap tenaga kerja lokal.
“Kita dorong minimal 80 persen tenaga kerja lokal. Pendidikan vokasi juga harus disiapkan agar masyarakat bisa terserap,” jelas Hari.
Ia juga menilai kawasan Teluk Banten memiliki potensi besar dikembangkan menjadi kawasan wisata berbasis sejarah dan waterfront city.
Apalagi kawasan tersebut memiliki nilai historis sejak kedatangan Cornelis de Houtman di Banten.