Senin, Desember 8, 2025
BerandaBeritaAdvertorialKomisi V DPRD Soroti Kesenjangan Layanan Kesehatan Pesantren

Komisi V DPRD Soroti Kesenjangan Layanan Kesehatan Pesantren

Saluran WhatsApp

Serang, Bantentv.com-Program “Banten Sehat” yang menjadi prioritas Gubernur Andra Soni berjalan positif, namun Anggota Komisi V DPRD Banten, H. Ahmad Imron, menyoroti kelompok besar yang masih belum terjangkau secara optimal. Salah satunya, komunitas pesantren.

Dalam Podcast Banten TV, ia menekankan bahwa Banten adalah daerah dengan populasi santri sangat besar, tetapi perhatian terhadap kesehatan di lingkungan pesantren masih minim.

Menurut Imron, kondisi ini disebabkan dua faktor. Pertama, keterbatasan akses, lalu kedua, budaya “sungkan” para pengurus pesantren ketika ingin meminta bantuan pemerintah.

“Banten ini daerah sejuta santri. Tapi kesehatan pesantren belum terurus dengan maksimal. Mereka kadang tidak mau meminta, ada rasa sungkan. Pemerintah harus mendekat, bukan menunggu,” tegasnya.

Imron menjelaskan, banyak pesantren menghadapi persoalan sanitasi, akses air bersih, ruang tinggal padat, hingga sering terjadi penyakit menular seperti ISPA, diare, dan gatal-gatal.

Ia menilai pemerintah provinsi harus memiliki skema khusus untuk melakukan pemeriksaan rutin ke pesantren.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pencegahan stunting dan peningkatan gizi bagi anak santri usia dini.

Menurutnya, program kesehatan tidak boleh hanya sebatas seremonial, melainkan harus konkret dan menyentuh kebutuhan sehari-hari warga pesantren.

Imron juga mendorong pemerintah untuk menghidupkan kembali budaya tanaman obat keluarga (TOGA) sebagai upaya pencegahan mandiri.

Ia menilai masyarakat Banten sejak dulu memiliki tradisi meramu obat herbal, namun budaya ini mulai hilang akibat tingginya ketergantungan pada obat kimia.

“Orang tua dulu punya jahe, kunyit, sereh, semua ditanam di pekarangan. Itu bisa jadi pertolongan pertama sebelum lari ke rumah sakit,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah wajib memperhatikan kesehatan santri dari usia balita, remaja, hingga lansia di lingkungan pesantren.

Menurutnya, program kesehatan tidak boleh menunggu masalah viral di media sosial baru ditindaklanjuti.

“Saya minta ini jadi program prioritas. Kalau santri sehat, pesantren kuat, dan masyarakat ikut merasakan manfaatnya,” katanya.

Dengan perspektif ini, Imron menegaskan bahwa keberhasilan “Banten Sehat” diukur bukan hanya dari data atau capaian administrasi, tetapi dari sejauh mana program tersebut benar-benar menyentuh komunitas pesantren. (Adv)

TERKAIT
- Advertisment -