Serang, Bantentv.com – Perilaku masyarakat Kabupaten Serang dalam dua tahun terakhir menunjukkan penurunan signifikan terkait kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS). Saat ini, sebanyak 80 persen masyarakat telah menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), meningkat dari sebelumnya yang hanya sekitar 20 persen.
Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah, menegaskan pemerintah daerah akan terus melakukan intervensi guna menghilangkan kebiasaan BABS di masyarakat. Hal tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Rapat Koordinasi Pengendalian dan Advokasi Penyakit serta Rakor Kabupaten Serang Sehat, pada 7 April 2026.
“Masih ada kurang lebih 60 desa yang masyarakatnya masih melakukan buang air besar sembarangan. Tentu secara pribadi dan pemerintah daerah akan terus melakukan intervensi,” ujarnya.
Baca Juga: Satu Keluarga Miskin di Lebak Tinggal di Rumah Kumuh
Menurut Zakiyah, keterbatasan anggaran pada tahun 2026 akibat kondisi fiskal menjadi tantangan dalam percepatan penanganan BABS. Namun, ke depan pihaknya akan berkolaborasi dengan para pelaku usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membantu pembangunan mandi cuci kakus (MCK) atau jamban bagi warga yang belum memiliki fasilitas sanitasi.
“Melalui kolaborasi tersebut, kita akan membangun MCK atau jamban bagi rumah warga yang belum memiliki toilet. Ini sebagai upaya agar masyarakat tidak lagi buang air besar sembarangan,” jelasnya.
Baca Juga: FORPAK Banten Ajak Mahasiswa Baru Tumbuhkan Sikap Antikorupsi

Saat ini, baru 15 dari 29 kecamatan di Kabupaten Serang yang telah memperoleh predikat bebas BABS. Meski demikian, Zakiyah optimistis target zero BABS dapat tercapai sebelum masa jabatannya berakhir.
Ia menekankan upaya tersebut membutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk dukungan dari masyarakat, pemerintah desa, hingga RT/RW, untuk terus mengedukasi pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat guna mencegah berbagai penyakit.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, dr. Efrizal, menyebut terjadi peningkatan signifikan masyarakat yang menerapkan PHBS. Jika dua tahun lalu baru sekitar 20 persen masyarakat tidak melakukan BABS, kini jumlahnya meningkat menjadi 80 persen.
Menurutnya, pembangunan fasilitas sanitasi seperti toilet membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga dukungan pemerintah dan berbagai pihak sangat dibutuhkan agar perubahan perilaku hidup sehat dapat terus meningkat.
Editor : Erina Faiha