Serang, Bantentv.com— Kamis, 23 Oktober 2025, di Baros, Kecamatan yang dikenal dengan hamparan sawahnya, mendadak ramai oleh kehadiran seorang tamu penting. Anggota DPRD Provinsi Banten dari Daerah Pemilihan Kabupaten Serang, Umar Barmawi, datang menggelar reses.
Bukan sekadar menengok, tetapi benar-benar mendengar dari jarak sedekat-dekatnya, tentang keluhan, kebutuhan, dan harapan warga.
Kampung Baros Pasar menjadi titik persinggahan kali ini. Di bawah balai sederhana, puluhan warga berkumpul, membawa cerita hidup yang sehari-hari mereka hadapi.
Irigasi menjadi topik yang paling mencolok, sebuah topik yang menyentuh nadi pertanian, nadi kehidupan Baros.
Keluhan paling lantang datang dari Ihat Mulhati, warga setempat, yang menceritakan persoalan irigasi yang sudah lama tak berfungsi.
“Airnya sekarang mampet, dari atas sampai bawah nggak jalan. Kalau hujan, rumah warga sering kebanjiran. Kami berharap pemerintah bisa segera memperbaiki,” kata Ihat, menahan resah yang tampak sudah lama mengendap.
Bagi daerah yang hidup dari sawah, saluran irigasi bukan hanya infrastruktur; ia penentu panen, penentu pendapatan, penentu masa depan.
Umar Barmawi tampak mencatat sambil sesekali mengangguk, menandakan bahwa masalah itu bukan keluhan ringan.
“Masalah irigasi ini akan kami kawal. Semua aspirasi dari warga kami kumpulkan dan nanti disampaikan dalam rapat paripurna DPRD untuk ditindaklanjuti Pemprov Banten,” ujarnya.
Sebagai Sekretaris DPW PKB Banten sekaligus Sekretaris Komisi I DPRD Banten, Umar menegaskan bahwa reses bukan ritual tahunan yang dijalankan tanpa makna.
Ia menyebutnya sebagai momen evaluasi atas apa yang sudah berjalan dan apa yang masih tersendat di lapangan.
“Reses bukan sekadar formalitas,” begitu yang kerap ia ulangi. Momentum seperti ini, katanya, menentukan arah kebijakan agar pembangunan tidak meleset dari kebutuhan nyata warga.
Dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif, warga juga mengangkat persoalan lain, seperti musala yang butuh perbaikan, penanganan sampah yang belum tertata, hingga akses layanan BPJS yang dianggap belum maksimal.
Umar menampung semuanya, memastikan bahwa daftar aspirasi itu tidak berhenti sebagai catatan kertas.
“Kami hadir bukan hanya untuk mencatat keluhan warga, tapi untuk memperjuangkannya sampai benar-benar terealisasi,” tegas Umar.
Kegiatan reses hari itu menghadirkan tokoh masyarakat, perangkat desa, hingga warga dari kampung-kampung sekitar.
Suasana hangat, tidak kaku, menggambarkan hubungan yang terbangun bukan karena jabatan, tetapi karena keberlanjutan komunikasi.
Baros, dengan problem irigasi yang menahun dan dinamika sosialnya, memberi Umar Barmawi sebuah pesan jelas: aspirasi warga tak hanya perlu didengar, tetapi dikawal hingga tuntas. Dan pagi itu, ia memastikan dirinya berada di garis depan untuk melakukannya. (Adv)