BerandaFeaturedUlasan5 Mitos dan Tradisi Malam 1 Suro yang Masih Dipercaya Masyarakat Jawa

5 Mitos dan Tradisi Malam 1 Suro yang Masih Dipercaya Masyarakat Jawa

Saluran WhatsApp

Bantentv.com – Malam 1 Suro kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis oleh sebagian masyarakat. Namun, bagi masyarakat Jawa, malam pergantian tahun dalam penanggalan Jawa ini juga menjadi momen untuk melakukan introspeksi diri, berdoa, dan memohon keselamatan.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, malam 1 Suro merupakan waktu yang sakral. Sejumlah tradisi dan ritual pun dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus permohonan perlindungan kepada Tuhan.

Selain ritual keagamaan seperti salat, meditasi, dan doa bersama, terdapat sejumlah kepercayaan dan mitos yang masih diyakini sebagian masyarakat hingga kini.

Baca Juga: 5 Mitos Malam Satu Suro yang Terkenal Mistis dan Sakral

Berikut beberapa mitos dan tradisi yang identik dengan malam 1 Suro.

Dilarang Keluar Rumah pada Malam Hari

Salah satu kepercayaan yang cukup populer adalah larangan keluar rumah pada malam 1 Suro. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, malam tersebut dianggap sebagai waktu terbukanya gerbang alam gaib.

Karena diyakini banyak makhluk halus berkeliaran, masyarakat dianjurkan untuk tetap berada di rumah guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Dilarang Menggelar Hajatan atau Pesta

Masyarakat Jawa juga meyakini bahwa bulan Suro bukan waktu yang tepat untuk menggelar pesta atau hajatan, terutama pernikahan.

Baca Juga: Kapan Malam 1 Suro 2026? Simak Tanggal dan Tradisi Sakral yang Masih Dilestarikan

Dalam tradisi Jawa, menikah pada bulan Suro dipercaya dapat mendatangkan kesialan atau berbagai cobaan bagi pasangan yang melangsungkan pernikahan. Karena itu, banyak keluarga memilih menunda hajatan hingga bulan berikutnya.

Tidak Boleh Berkata Kasar atau Berisik

Malam 1 Suro juga identik dengan suasana yang tenang dan penuh perenungan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga ucapan dan menghindari perkataan kasar.

Di sejumlah daerah, tradisi Tapa Bisu masih dilakukan. Ritual ini dilakukan dengan berjalan tanpa berbicara sebagai bentuk pengendalian diri dan refleksi batin. Salah satu yang terkenal adalah Tapa Bisu Mubeng Benteng di Keraton Yogyakarta.

Tidak Dianjurkan Membangun atau Pindah Rumah

Kepercayaan lainnya adalah larangan membangun maupun pindah rumah pada malam atau bulan Suro.

Baca Juga: Tradisi Bubur Suro di Bulan Muharam, Antara Syukur dan Sejarah Nabi Nuh

Masyarakat Jawa meyakini aktivitas tersebut dapat membawa kesialan atau petaka bagi penghuni rumah. Oleh sebab itu, banyak orang menghindari memulai pembangunan maupun pindah tempat tinggal pada periode tersebut.

Jamasan Pusaka untuk Membersihkan Energi Negatif

Tradisi lain yang masih dilakukan hingga kini adalah Jamasan Pusaka, yakni membersihkan benda-benda pusaka seperti keris, tombak, dan benda bersejarah lainnya.

Masyarakat Jawa percaya pusaka memiliki nilai spiritual yang perlu dirawat dan dibersihkan secara berkala. Namun, jamasan tidak hanya dimaknai sebagai ritual mistis.

Lebih dari itu, tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya, sejarah, dan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan para leluhur.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT
- Advertisment -