Bantentv.com – Kisah Tanjung Verde lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi salah satu cerita paling menarik dalam perjalanan menuju turnamen sepak bola terbesar di dunia. Negara kepulauan di lepas pantai Afrika Barat itu berhasil mencatat sejarah dengan tampil untuk pertama kalinya di putaran final Piala Dunia.
Dengan jumlah penduduk sekitar setengah juta jiwa dan luas wilayah hanya sekitar 4.000 kilometer persegi, keberhasilan Tanjung Verde menembus Piala Dunia 2026 dianggap sebagai pencapaian luar biasa.
Dilansir dari FIFA, Tanjung Verde meraih kemerdekaan pada 1975, sementara perjalanan tim nasional sepak bolanya dimulai beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1978.
Seiring berjalannya waktu, pengalaman dan ambisi sepak bola negara tersebut terus berkembang. Generasi demi generasi pemain hadir membawa harapan baru hingga akhirnya mampu mewujudkan impian tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pemain keturunan Tanjung Verde dari berbagai latar belakang ikut terlibat dalam proyek pembangunan tim nasional yang berorientasi jangka panjang.
Baca Juga: Bukan Bola Biasa, TRIONDA Piala Dunia 2026 Punya Sensor Canggih
Di bawah arahan pelatih Bubista, Tanjung Verde berhasil membangun skuad yang solid dengan chemistry yang kuat di dalam maupun luar lapangan.
Konsistensi permainan dan mentalitas kompetitif menjadi modal utama dalam perjalanan mereka di kualifikasi zona Afrika (CAF).
Hasilnya, Tanjung Verde mampu tampil stabil sepanjang babak kualifikasi dan mengungguli sejumlah tim yang lebih berpengalaman.
Salah satu kunci keberhasilan mereka adalah performa impresif saat bermain di kandang. Tanjung Verde menyapu bersih lima pertandingan kandang dengan kemenangan dan tidak kebobolan satu gol pun.
Tiket ke Piala Dunia akhirnya dipastikan di hadapan pendukung sendiri di Praia. Saat itu, The Blue Sharks menang 3-0 atas Eswatini pada laga kualifikasi terakhir yang sekaligus mengunci posisi mereka di puncak klasemen grup.
Tanjung Verde Singkirkan Kamerun dan Angola
Kisah Tanjung Verde semakin istimewa karena mereka lolos dari grup yang dihuni sejumlah kekuatan tradisional Afrika.
The Blue Sharks berhasil finis sebagai juara grup dan mengungguli Kamerun serta Angola, dua tim yang memiliki sejarah panjang di sepak bola Afrika.
Kamerun yang beberapa kali tampil di Piala Dunia bahkan harus puas berada di bawah Tanjung Verde. Tim asuhan Bubista menutup kualifikasi dengan keunggulan empat poin atas Kamerun yang berada di posisi kedua.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa sepak bola Afrika terus melahirkan kekuatan baru. Kini, Tanjung Verde bersiap menulis sejarah berikutnya dengan menjalani debut mereka di Piala Dunia FIFA 2026.