Bantentv.com – Pergerakan harga minyak mentah global, pada data terbaru perdagangan, Jumat pagi 1 Mei 2026, menunjukkan posisi yang masih sangat solid di pasar. Saat ini, harga minyak mentah Brent tercatat berada pada level 111,71 US$/barel.
Posisi ini juga mencatatkan sedikit penyesuaian jika dikomparasikan dengan level penutupan pada sesi perdagangan hari sebelumnya, yakni di angka 114,01 US$/barel.
Di satu sisi, patokan harga minyak mentah West Texas Intermediate menunjukkan penguatan dengan berada pada level 105,69 US$/barel, meningkat dari posisi penutupan kemarin yang tercatat di level 105,07 US$/barel.
Baca Juga: IHSG Anjlok 2,57 Persen ke Level 7.915, Sentimen Global Tekan Pasar Saham
Berdasarkan analisis teknikal, posisi pergerakan harga yang terbentuk pada hari ini memberikan indikasi pergerakan yang cukup signifikan. Di mana dinamika harga dan kenaikan yang terjadi akhir-akhir ini juga dinilai telah berhasil melewati batas garis trendline resistensi yang sebelumnya menjadi penahan laju pergerakan.
Penembusan garis trendline ini merupakan indikator teknikal yang krusial, pasalnya, secara probabilitas berpotensi besar untuk menjaga harga minyak mentah agar terus bertahan dan berkonsolidasi pada level tinggi saat ini.
Sementara bertahannya harga di atas garis trendline tersebut juga memberikan landasan teknikal yang lebih kokoh untuk meredam potensi tekanan koreksi pasar dalam waktu dekat ini.
Baca Juga: IHSG Catat Rekor Baru, Ditutup Menguat ke 8.337 pada 6 November 2025
UEA Mundur Dari OPEC, Ketidakpastian Suplai Minyak Jadi Sentimen Utama
Harga minyak yang masih bertahan di level atas saat ini sangat dipengaruhi oleh analisis sentimen yang bergerak dinamis. Sementara dari sisi jangka pendek, pasar diwarnai oleh sentimen bullish yang sangat kuat akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Meskipun ada upaya gencatan senjata, namun wacana blokade jangka panjang terhadap pelabuhan Iran di Selat Hormuz terus digaungkan untuk menekan program nuklir negara tersebut.
Adapun dalam gencatan yang dilakukan, operasi militer Amerika Serikat tercatat telah memblokade 42 armada kapal komersial, menahan sekitar 69 juta barel minyak mentah Iran senilai lebih dari 6 miliar Dolar AS.
Baca Juga: IHSG Kembali Melemah, Ditutup Merosot ke 7.129 Jelang Akhir Pekan
Menanggapi hal tersebut, militer Iran pun menyatakan kesiapan penuh untuk mengambil tindakan militer yang cepat jika pasukan Amerika Serikat terus bergerak maju.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin juga telah mengeluarkan peringatan bahwa aksi militer lanjutan akan membawa konsekuensi destruktif bagi kawasan. Ketidakpastian suplai akibat eskalasi perang ini juga sempat mendorong harga minyak menyentuh titik tertingginya dalam empat tahun terakhir.
Selain itu, pasar komoditas juga tengah menghadapi sentimen bearish yang bersifat struktural untuk jangka panjang. Munculnya sentimen itu, lantaran adanya informasi bahwa Uni Emirat Arab telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari kelompok negara pengekspor minyak per 1 Mei 2026.
Langkah ini juga diambil untuk memaksimalkan kapasitas produksi menuju target 5 juta barel per hari pada tahun 2027. Untuk itu, keputusan tersebut secara otomatis menghapus kapasitas cadangan strategis organisasi, sehingga membatasi kemampuan mereka dalam menstabilkan harga global.
Baca Juga: Viral! Pembagian MBG Bahan Mentah di Tangsel, BGN dan SPPG Angkat Bicara
Ancaman dari membanjirnya pasokan minyak efisien asal Uni Emirat Arab ini memicu sentimen ketidakpastian yang berpotensi melahirkan kompetisi harga yang ketat di masa depan.
Diketahui sebelumnya, Uni Emirat Arab (UEA) secara mengejutkan mengumumkan pengunduran diri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Rabu, 29 April 2026 lalu dan akan berlaku efektif mulai 1 Mei mendatang.
Pengumuman ini disampaikan oleh kantor berita resmi UEA, WAM, dan menandai pergeseran besar dalam peta kekuatan energi global.
Dikutip dari CNN, langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari visi ekonomi jangka panjang negara tersebut. Keputusan ini juga disebut sebagai upaya UEA untuk lebih leluasa dalam mengembangkan sektor energinya sendiri tanpa terikat aturan kelompok.
“Keputusan ini sejalan dengan visi strategis dan ekonomi jangka panjang Uni Emirat Arab serta pengembangan sektor energinya, termasuk mempercepat investasi dalam produksi energi domestik,” bunyi pernyataan resmi pemerintah UEA.
Baca Juga: Sayuran yang Tidak Boleh Dikonsumsi Secara Mentah
Pengunduran diri UEA dari OPEC merupakan pukulan telak bagi organisasi tersebut dan anggota utamanya, Arab Saudi, mengingat UEA adalah salah satu produsen minyak terbesar di dunia yang menyumbang sekitar 3 persen hingga 4 persen pasokan global.
Selain meninggalkan organisasi inti, dalam pernyataan tersebut juga mengonfirmasi bahwa UEA akan keluar dari aliansi OPEC+ yang mencakup Rusia.
Editor : Erina Faiha