Serang, Bantentv.com – Pemerintah Kota Serang terus menggenjot perbaikan ribuan rumah tidak layak huni (RTLH) yang tersebar di sejumlah wilayah. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi anggaran APBD, dana Belanja Tak Terduga (BTT), hingga bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan. Ribuan unit rumah ditargetkan rampung diperbaiki pada tahun 2026.
Upaya pemulihan hunian bagi warga terdampak bencana dan masyarakat berpenghasilan rendah kini menjadi prioritas utama Pemerintah Kota Serang.
Berdasarkan hasil asesmen Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang, tercatat sekitar 150 rumah terdampak bencana yang memerlukan penanganan mendesak.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 51 unit rumah telah ditangani melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) dengan anggaran APBD, sementara sisanya ditangani menggunakan dana Belanja Tak Terduga.
Baca Juga: Ketua DPRD Kota Cilegon Minta Besaran Bantuan RTLH Naik
Tak hanya itu, sektor swasta turut berkontribusi melalui program CSR, di antaranya PT Kawah sebanyak 75 unit rumah, PLN dua unit rumah, serta adanya komitmen bantuan dari Bunda Suci dan Lippo Group.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Serang, Nofriady Eka Putra, mengatakan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman menginformasikan akan membangun sekitar 1.600 unit rumah tidak layak huni pada tahun 2026.
“Kita asesmen dari BPBD ada kurang lebih 150 rumah. Yang sudah kita bantu melalui anggaran APBD lewat Dinas Perkim ada sebanyak 51 unit. Sisanya akan menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT),” ujar Nofriady.
Baca Juga: Budi Rustandi Blusukan Sejumlah RTLH Siap Diperbaiki Dari CSR Tanpa APBD
Padahal, berdasarkan data yang masuk melalui aplikasi Sibaru, jumlah RTLH di Kota Serang mencapai sekitar 7.000 unit. Adapun kriteria penerima bantuan diprioritaskan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan kondisi rumah rusak ringan hingga sedang.
“Dari CSR ada 75 unit dari PT Kawah, dari PLN dua unit, dan dari Budha Suci insyaallah ada 100 unit. Lipo Group juga berkontribusi sekitar 200 unit,” jelasnya.
Nofriady menambahkan, kerusakan rumah di wilayah Kota Serang didominasi oleh faktor struktur bangunan yang tidak memadai serta usia bangunan yang sudah tua. Titik terbanyak rumah rusak berada di Kecamatan Kasemen, Walantaka, dan Kecamatan Serang.
Editor : Erina Faiha