Bantentv.com – Krisis ekonomi Iran kian memburuk seiring anjloknya nilai tukar rial terhadap dolar Amerika Serikat. Pada Senin, 19 Januari 2026, nilai tukar US$1 tercatat setara dengan 1,064 juta rial Iran. Merosot tajam dari posisi awal 2025 yang masih berada di kisaran 42 ribu rial per dolar.
Pelemahan tersebut mencerminkan penurunan lebih dari 2.400 persen dalam kurun waktu satu tahun. Hal ini menandai salah satu kejatuhan mata uang terdalam dalam sejarah ekonomi Iran.
Tak hanya melemah terhadap dolar AS, rial Iran juga terpuruk terhadap rupiah. Saat ini, Rp1 setara 63,05 rial, sehingga uang pecahan Rp20 ribu bernilai sekitar 1,26 juta rial Iran.
Kurs rial terhadap rupiah tercatat amblas sekitar 2.360 persen dibanding awal 2025. Saat itu nilainya masih berada di level 2,5 rial per rupiah.
Anjloknya nilai tukar rial memperparah tekanan ekonomi domestik. Harga barang kebutuhan pokok seperti daging, beras, dan bahan dapur melonjak tajam, seiring melemahnya daya beli masyarakat.
Kondisi ini turut memicu gelombang demonstrasi di sejumlah wilayah Iran, menyusul meningkatnya beban hidup warga akibat inflasi yang terus menanjak.
Selain kebutuhan pokok, sektor energi juga terdampak signifikan. Harga bahan bakar minyak (BBM) ikut mengalami kenaikan. Padahal, Iran selama ini dikenal sebagai negara dengan harga BBM sangat murah berkat subsidi besar pemerintah.
Subsidi BBM Dipangkas
Tekanan anggaran akibat pelemahan rial memaksa pemerintah Iran menyesuaikan kebijakan subsidi energi. Mengutip laporan Associated Press (AP), Iran sejak Desember 2025 mulai menerapkan sistem harga bensin tiga tingkat.
Dalam skema terbaru ini, setiap pengendara masih mendapatkan jatah 60 liter per bulan dengan harga subsidi 15 ribu rial per liter.
Setelah kuota tersebut habis, konsumen dapat membeli tambahan 100 liter dengan harga 30 ribu rial per liter.
Sementara itu, konsumsi di atas 160 liter per bulan dikenakan tarif 50 ribu rial per liter.
Kebijakan ini menandai perubahan signifikan dari aturan sebelumnya yang hanya menerapkan dua lapis harga bensin.
Saat itu, 60 liter pertama tetap disubsidi, sementara pembelian berikutnya langsung dikenakan harga lebih tinggi.
Langkah penyesuaian harga BBM ini diambil untuk menekan beban fiskal negara. Namun, kebijakan tersebut berisiko memperbesar tekanan sosial di tengah krisis ekonomi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.