BerandaBeritaInternasionalGagal Capai Kesepakatan, Rencana Blokade Selat Hormuz Picu Harga Minyak Dunia Tembus...

Gagal Capai Kesepakatan, Rencana Blokade Selat Hormuz Picu Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS

Saluran WhatsApp

Bantentv.com – Harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan signifikan hingga menembus angka 100 dolar AS per barel. Kenaikan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan rencana memblokade seluruh kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Pada Minggu, 12 April 2026 pukul 22.01 GMT atau Senin, 13 April 2026 pukul 05.01 WIB, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik 7,76 persen menjadi 102,59 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak mentah WTI untuk pengiriman Mei melonjak 8,2 persen menjadi 104,51 dolar AS per barel atau sekitar Rp1,7 juta.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Pemerintah Siapkan Skenario Terburuk

Negosiasi AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran sempat melakukan pembicaraan di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu, 11 April 2026, setelah adanya kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan.

Namun, Wakil Presiden AS J.D. Vance yang memimpin delegasi AS menyatakan negosiasi berjalan alot dan tidak menghasilkan kesepakatan. Delegasi AS pun kembali dari Islamabad tanpa membawa hasil.

Presiden Donald Trump kemudian mengumumkan rencana blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar Selat Hormuz. Ia juga menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk melacak serta mencegat kapal yang melakukan transaksi dengan Iran.

Baca Juga: Di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia, Bahlil Jamin BBM Subsidi Tidak Naik

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan blokade lalu lintas maritim menuju pelabuhan Iran akan dimulai pada Senin pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB.

Pasokan Global Terancam, Harga Energi Naik

Rencana blokade tersebut berisiko mengganggu pasokan minyak global. Data pasar menunjukkan harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional naik sekitar 8 persen ke level 102 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS juga melonjak ke kisaran 104 dolar AS per barel.

Kondisi ini turut berdampak pada pasar modal global. Kontrak berjangka Dow Jones turun 1,04 persen atau kehilangan 502 poin. S&P 500 melemah sekitar 1 persen, sementara Nasdaq terkoreksi 1,15 persen.

Meski mengalami kenaikan tajam, harga minyak saat ini masih berada di bawah level tertinggi yang sempat tercapai pada pekan sebelumnya. Sebelumnya harga sempat menurun setelah Trump membatalkan ancaman serangan ke Iran dan membuka peluang gencatan senjata.

Namun, belum tercapainya kesepakatan permanen hingga mendekati tenggat waktu membuat harga kembali merangkak naik.

Dampak Kenaikan Minyak terhadap Inflasi

Kenaikan harga minyak diperkirakan berdampak langsung pada masyarakat, terutama melalui kenaikan harga bahan bakar. Hingga Minggu, rata-rata harga bensin di Amerika Serikat tercatat mencapai 4,12 dolar AS per galon atau meningkat 38 persen sejak awal konflik.

Peneliti senior Middle East Institute, Karen Young, menyebut proses penyelesaian konflik diperkirakan masih membutuhkan waktu, sehingga harga minyak berpotensi tetap tinggi.

Menurutnya, mahalnya harga energi juga dapat memicu inflasi di sektor pangan akibat terganggunya rantai pasok, termasuk distribusi pupuk dan kemasan makanan.

“Kita akan mulai melihat tekanan inflasi itu. Pikirkan semua yang Anda beli di toko ritel besar,” ujar Karen Young.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT
- Advertisment -