Pandeglang, Bantentv.com – Kenaikan harga kedelai mulai dirasakan oleh pedagang maupun pelaku usaha olahan pangan di Kabupaten Pandeglang. Dalam beberapa bulan terakhir, harga kedelai yang menjadi bahan baku utama pembuatan tahu, tempe, dan susu kedelai terus mengalami peningkatan.
Kondisi tersebut terlihat di salah satu toko penjual kedelai di Pasar Tradisional Badak, Pandeglang. Jika sebelumnya kedelai dijual dengan harga sekitar Rp10 ribu per kilogram, kini harga kedelai naik menjadi Rp13 ribu per kilogram.
Baca Juga: Harga Tepung Tapioka Naik, Perajin Kerupuk di Serang Tertekan
Para pedagang menyebut kenaikan harga kedelai dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Sebab, sebagian besar kebutuhan kedelai masih bergantung pada pasokan impor sehingga sangat dipengaruhi pergerakan kurs.
Dampak kenaikan harga kedelai tidak hanya dirasakan dari sisi pasokan, tetapi juga berpengaruh terhadap penjualan. Sejumlah pedagang mengaku omzet mereka menurun cukup signifikan sejak harga kedelai terus merangkak naik.
“Kacang kedelai naik, ya pasti imbasnya ke omzet penjualan, turunnya kisaran 20 sampai 25 persen,” kata Dede.

Selain pedagang, kenaikan harga kedelai juga dikeluhkan oleh para pembeli yang sebagian besar merupakan perajin tempe. Mereka harus mencari cara agar usaha tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas produk yang dijual kepada konsumen.
Salah seorang perajin tempe mengaku terpaksa mengurangi ukuran tempe yang diproduksinya. Langkah tersebut dilakukan agar biaya produksi tetap bisa ditekan meski harga kedelai mengalami kenaikan.
“Karena harga kacang kedelai naik, terpaksa saya pilih untuk kurangi ukuran tempenya, supaya kualitasnya tetep terjaga,” ujarnya.
Para pedagang dan perajin berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai di pasaran. Mereka khawatir jika harga kedelai terus meningkat, daya beli masyarakat akan semakin menurun dan berdampak lebih besar terhadap keberlangsungan usaha kecil yang bergantung pada komoditas tersebut.