Serang, Bantentv.com – Di banyak desa di Banten, kisah pekerja migran dimulai dengan koper tua, selebaran lowongan, dan janji yang terdengar lebih manis daripada kenyataan.
Sebagian berangkat dengan prosedur lengkap, sebagian lain menyelinap lewat jalur yang tak tercatat negara. Di celah-celah itulah masalah kerap tumbuh.
Komisi V DPRD Banten menilai waktu untuk menata ulang semua itu sudah lewat. Karena itu mereka mendorong provinsi ini meniru “Desa Emas Migran”, model dari Jawa Barat yang membuat tata kelola migrasi dimulai dari halaman rumah warga, bukan di kantor dinas.
Anggota Komisi V DPRD Banten, Ahmad Imron, menyebut Jawa Barat sudah memberi contoh bagaimana desa bisa menjadi pusat gravitasi perlindungan PMI.
“Di Jawa Barat ada desa emas migran. Mereka mengatur perekrutan, pendampingan, sampai pemulangan PMI. Bahkan ada peraturan desa yang mengatur ini. Ini bisa kita adopsi di Banten,” tuturnya dalam Podcast Banten TV.
Banten sebenarnya punya perangkat, di antaranya, sekolah vokasi, BLK, pelatihan teknik dari las sampai pengasuhan. Namun semua bergerak seperti pulau-pulau yang belum disatukan jembatan.
“BLK kita bagus, pelatihan las di Serang juga luar biasa. Ada pelatihan memasak, pengasuhan, dan lainnya. Yang kurang itu integrasi dan sosialisasinya, sehingga masyarakat banyak yang tidak tahu,” katanya.
Dalam gagasan “Desa Emas Migran”, desa bukan lagi sekadar tempat pencatatan, tetapi menjadi ruang kurasi bagi calon PMI.
Mereka didata, diasah keterampilannya, didampingi, dan dikawal hingga kembali pulang.
Justru mereka yang pulang inilah, purna PMI, yang menurut Imron sering luput dari radar kebijakan.
“Purna PMI itu punya pengalaman luar biasa. Kalau mereka dibina dan diterapkan ilmunya, itu bisa jadi bola salju untuk kemandirian ekonomi desa,” tegasnya.
Komisi V mendorong pemerintah provinsi menggelar pertemuan lintas instansi, menyatukan dinas ketenagakerjaan, pendidikan, dan perangkat desa dalam satu peta jalan.
Agar perlindungan PMI tak lagi berhenti di seminar dan rencana kerja, melainkan dimulai dari tempat yang paling mengenal mereka, yakni desa. (Adv)