Bantentv.com – Ekonomi Indonesia triwulan I-2026 terhadap triwulan I-2025 mengalami pertumbuhan sebesar 5,61 persen (y-on-y). Hal itu disampaikan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
“Secara year on year, ekonomi triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen dibandingkan triwulan yang sama di tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan I 2025 yang tumbuh sebesar 4,87 persen secara year on year,” Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Berdasarkan informasi yang dirilis BPS tersebut, Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan I-2026 mencapai Rp6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.447,7 triliun.
Kemudian, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau biasa disebut investasi langsung tumbuh 5,96 persen dan memberi kontribusi 28,29 persen terhadap PDB.
“Ekspor tumbuh 0,9 persen dan berkontribusi 21,22 persen terhadap PDB. Kemudian, konsumsi pemerintah tumbuh tinggi 21,81 persen, namun hanya berkontribusi 6,71 persen terhadap PDB,” ujar Amalia.
Dalam rilis itu juga disampaikan, dari sisi produksi, Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen.
Adapun konsumsi rumah tangga didorong oleh momentum Lebaran dan meningkatnya mobilitas masyarakat. Sehingga pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi terjadi pada pengeluaran kelompok restoran dan hotel yakni sebesar 7,38 persen, seiring meningkatnya kegiatan wisata selama liburan yang tercermin dari peningkatan perjalanan wisatawan nusantara.
Baca Juga: Realisasi Pajak Daerah Pandeglang Tembus Rp29,7 Miliar di Triwulan I
Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 21,81 persen.
Adapun peningkatan realisasi belanja pegawai tersebut sejalan dengan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan pengangkatan Aparatur Sipil Negara (ASN) baru serta peningkatan belanja barang dan jasa, terutama pada belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat berupa program Makan bergizi Gratis (MBG).
Ekonomi Indonesia triwulan I-2026 terhadap triwulan IV-2025 terkontraksi sebesar 0,77 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 8,20 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen PK-P mengalami kontraksi terdalam sebesar 30,13 persen.
Baca Juga: Realisasi Investasi Provinsi Banten Triwulan I Capai 25,7 Triliun
Adapun konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh 6,28 persen dan berkontribusi 1,4 persen. Terakhir, komponen impor tumbuh 7,18 persen dan menekan pertumbuhan ekonomi sebesar -20,29 persen.
“Konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar, yakni sebesar 2,94 persen, PDB juga ditopang PMTB 1,79 persen dan konsumsi pemerintah memberi sumber pertumbuhan 1,26 persen,” kata Amalia.
Pada triwulan I-2026, kelompok provinsi di Pulau Jawa mendominasi struktur perekonomian Indonesia secara spasial, dengan kontribusi mencapai 57,24 persen dan mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,79 persen (y-on-y).
Editor : Erina Faiha