Serang, Bantentv.com – Sebanyak 90 warga Cikande saat ini masih menunggu pemeriksaan lanjutan setelah diduga terpapar material radioaktif jenis Cesium 137.
Dugaan ini muncul berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah dilaksanakan sebelumnya dan diikuti oleh warga dari berbagai kelompok usia, termasuk sejumlah anak-anak yang ikut menjalani pemeriksaan.
Menurut Sekretaris Daerah Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana, sebagian besar warga yang sempat direlokasi kini telah kembali ke rumah masing-masing setelah proses dekontaminasi dilakukan oleh petugas.
Namun, masih ada satu rumah yang belum selesai ditangani sehingga tetap berada dalam garis police line. “Tinggal satu rumah yang hari ini lagi di dekontaminasi belum selesai,” ujarnya.
Zaldi menjelaskan bahwa terdapat 90 orang yang diduga memiliki paparan awal radioaktif berdasarkan hasil CKG.
Namun, pemeriksaan lanjutan harus dilakukan di fasilitas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Serpong.

Saat ini, alat yang digunakan untuk mendeteksi paparan radioaktif internal di kantor pusat BRIN mengalami kerusakan, sehingga pemeriksaan belum dapat dilakukan.
“Kemudian dari warga yang dilakukan CKG kemarin ada 90 orang yang suspek terkena radioaktif. Tapi untuk pemeriksaannya harus di BRIN Serpong,” ujar Zaldi.
Hingga kini, pihaknya masih menunggu informasi resmi dari BRIN terkait tindak lanjut pemeriksaan kesehatan tersebut.
Kondisi fisik para warga yang diduga terpapar juga belum bisa dipastikan karena proses analisis lanjutan belum berjalan.
Meskipun tidak menunjukkan gejala dalam waktu dekat, paparan radiasi tetap berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang, sehingga proses penanganan tidak boleh tertunda.
Baca Juga: Meski Isu Radioaktif Merebak, Warga Sekitar Modern Cikande Tetap Tenang
Dari total warga yang masuk kategori suspek, terdapat anak SMP termasuk di dalamnya. Mereka mengikuti CKG karena tinggal dan beraktivitas di sekitar lokasi yang terindikasi terpapar CS-137.
“Ternyata termasuk anak-anak SMP yang kemarin di CKG ada yang suspek terkena radioaktif, yang rumahnya di situ, juga sekolahnya di situ,” ungkapnya.
Zaldi menyebutkan bahwa kontaminasi pada bagian luar tubuh dapat terlihat melalui surveymeter, namun bila zat tersebut masuk ke dalam tubuh, dibutuhkan alat khusus untuk mendeteksinya secara tepat.
Pihak terkait berharap proses pemeriksaan dapat dilakukan sebelum tiga bulan sejak paparan awal terdeteksi. Hal ini penting karena ketika zat berbahaya tersebut sudah masuk lebih dalam ke jaringan seperti otot dan tulang, penanganannya akan menjadi jauh lebih sulit.