Serang, Bantentv.com – Jika Anda berkunjung ke Kecamatan Taktakan Kota Serang, maka tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi emping melinjo.
Menjadi salah satu sentra kerajinan pangan lokal, emping melinjo tetap bertahan sebagai buah tangan primadona yang digemari lintas daerah.
Salah satu pelaku usaha yang konsisten menjaga geliat produksi ini adalah Mulyati, seorang pengrajin emping asal Kampung Perumasan, Kelurahan Kalang Anyar, Kecamatan Taktakan, Kota Serang yang telah memulai bisnisnya sejak tahun 2008 silam hingga saat ini.
Cara pengolahan emping dari bahan baku biji melinjo hingga menjadi emping siap santap, dilakukan cara tradisional, yakni biji melinjo terlebih dahulu disangrai menggunakan pasir dengan tungku kayu bakar, setelah cukup masak biji melinjo ditiriskan lalu ditumbuk untuk dipipihkan, kemudian dibariskan ditempayan babu, lalu digoreng. Emping yang gurih nan lezat khas kecamatan Taktakan siap disantap.
Di tengah pasang surut ekonomi, dapur produksi Mulyati hampir tidak pernah berhenti mengepul. Setiap harinya, puluhan hingga ratusan kilogram melinjo mentah disulap menjadi emping siap konsumsi.
Baca Juga: Olahan Emping Melinjo, Makanan Tradisional yang Dongkrak Ekonomi Desa Sindangsari
“Kadang sehari itu 100, kadang 80, kadang 110 Kilogram. Tiap hari, tergantung karyawan ya. Kalau aktif semua mah banyak. Melinjo dari pasar, Pasar Rau”, Ucap Mulyati dilokasi rumah produksi emping, Sabtu, 16 Mei 2026.
Usaha emping melinjo ini bukan sekedar bisnis pribadi, melainkan penggerak roda ekonomi bagi warga lokal. Mulyati saat ini mengandalkan 28 orang karyawan yang semuanya merupakan warga asli Kampung Perumasan.
“Dari kampung sini, Kampung Perumasan, 28 orang semuanya. Disini tuh 10, kan ada yang kerja dirumah – rumah orang gitu, 18. Jadi 28”, terang Mulyati.
Berbeda dengan sebagian pengrajin yang menjual dalam kondisi mentah, Mulyati memilih untuk memasarkan emping yang sudah digoreng matang dan siap santap. Jangkauan pasarnya pun sudah merambah ke luar kota.
Selain melayani pembelian dirumah, produk ini didistribusikan ke berbagai pasar tradisional, kawasan wisata Banten Lama, hingga menembus pasar Tangerang.
“Di rumah aja, dibawanya mah ke mana-mana ya, Tangerang, Banten Lama, ke pasar-pasar. Harga tergantung bahan baku sekarang-sekarang mah lagi 70, 65 ribu. Kalau eceran tuh 70 ribu. Grosir pembelian 100 sampe 200Kg 65 ribu per Kilo”, tegas Mulyati.
Baca Juga: Emping Melinjo Khas Lebak Tembus Pasar Mancanegara, Jadi Penopang Ekonomi Warga
Meski memiliki pelanggan tetap yang membeli dalam jumlah kwintal, usaha ini tak luput dari tantangan penurunan omzet. Saat ini, Mulyati mengaku penjualan sedang mengalami fase penurunan karena faktor musiman.
“Bulan-bulan ini mah sepi penjualannya. Faktor bulan kayaknya ya, bulan sepi disini mah. Mungkin di Banten nya (Banten Lama) tuh kurang pengunjung,” ungkap Mulyati.
Sektor pariwisata religi seperti Banten Lama memang menjadi hilir utama serapan pasar emping melinjo ini. Ketika volume wisatawan menurun, dampaknya langsung terasa pada dapur-dapur pengrajin di Taktakan.
Namun, dengan pengalaman lebih dari 15 tahun, Mulyati optimis roda bisnisnya akan kembali melesat seiring datangnya musim liburan atau hari besar keagamaan.