Bantentv.com – Film terbaru karya sutradara Wregas Bhanuteja berjudul Para Perasuk resmi tayang di bioskop Indonesia mulai Kamis, 23 April 2026.
Film yang diproduksi oleh Rekata Studio ini langsung mencuri perhatian publik karena mengangkat konsep cerita yang berbeda dari film pada umumnya.
Meski judulnya identik dengan nuansa mistis, Para Perasuk bukanlah film horor yang berfokus pada pengalaman kerasukan.
Sebaliknya, Para Perasuk hadir sebagai drama yang mengangkat isu sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya terkait penggusuran lahan dan perjuangan mempertahankan ruang hidup.
Wregas Bhanuteja mengajak penonton untuk melihat keterkaitan antara tradisi, ambisi, dan rasa memiliki terhadap tanah kelahiran.
Kehadiran Para Perasuk menjadi menarik karena mampu menggabungkan unsur budaya lokal dengan realitas sosial yang masih relevan hingga saat ini.Â
Baca Juga: Tayang 16 April, Begini Sinopsis Ghost in The Cell Garapan Joko Anwar
Film Para Perasuk dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris ternama Indonesia, seperti Angga Yunanda, Anggun C. Sasmi, Maudy Ayunda, Indra Birowo, Bryan Domani, serta Chicco Kurniawan.
Di balik layar, film ini diproduseri oleh Siera Tamihardja, Iman Usman, dan Amalia Rusdi. Selain itu, Cinta Laura Kiehl juga turut terlibat sebagai produser eksekutif dalam proyek Para Perasuk.
Sinopsis Film Para Perasuk
Film Para Perasuk mengambil latar di Desa Latas, sebuah wilayah kecil di pinggiran kota yang dikenal dengan tradisi khas bernama “pesta kerasukan”.
Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat sekaligus menjadi hiburan turun-temurun bagi warga.
Konflik dalam Para Perasuk mulai muncul ketika mata air keramat di desa tersebut terancam digusur demi kepentingan pembangunan.
Mata air ini memiliki peran penting sebagai tempat para perasuk mencari roh, sehingga keberadaannya sangat dijaga oleh masyarakat.
Menghadapi ancaman tersebut, Bayu (Angga Yunanda), seorang pemuda desa, bertekad mengambil peran besar.
Ia memiliki ambisi untuk menjadi “Perasuk Utama” yang akan memimpin pesta kerasukan berskala besar.
Tujuannya adalah mengumpulkan dana dari para pengunjung agar dapat menebus kembali mata air keramat sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.
Namun, perjalanan Bayu tidak berjalan mudah. Di tengah usahanya, ia mulai menyadari bahwa ambisi saja tidak cukup untuk menjadikannya seorang perasuk sejati.
Lebih dari itu, perjuangan menyelamatkan desa membutuhkan pengorbanan, ketulusan, dan pemahaman yang lebih dalam tentang makna tradisi itu sendiri.