BerandaEkonomiEkonomi Indonesia Terus Tumbuh, APBN Tunjukkan Tren Kinerja Positif

Ekonomi Indonesia Terus Tumbuh, APBN Tunjukkan Tren Kinerja Positif

Saluran WhatsApp

Bantentv.com – Kementerian Keuangan RI merilis sejumlah capaian kinerja dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang menunjukkan tren kinerja positif sampai dengan 31 Mei 2026, yang dirilis pada Sabtu, 6 Juni 2026.

Dalam rilis tersebut, Pendapatan Negara mengalami pertumbuhan tinggi, sementara Belanja Negara yang akseleratif dan semakin proporsional sepanjang tahun, serta tetap prudent dalam mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Realisasi Pendapatan Negara juga tumbuh mencapai Rp1.185,0 triliun atau 37,6 persen dari target APBN 2026. Capaian ini tumbuh tinggi sebesar 19,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: APBN 2026: Gaji PNS Tidak Naik, Fokus pada Program Prioritas Nasional

Adapun dalam kinerja ini, utamanya didorong oleh penerimaan pajak yang mencapai Rp834,4 triliun dengan pertumbuhan 22,1 persen (yoy), penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp123,8 triliun yang tumbuh 0,7 persen (yoy), serta PNBP sebesar Rp226,4 triliun yang juga tumbuh 19,9 persen (yoy).

Selanjutnya, Belanja Negara terealisasi sebesar Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari target APBN. Di mana Belanja Negara mengalami pertumbuhan sebesar 34,4 persen (yoy) dan Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sebesar Rp1.059,3 triliun, yang ditopang oleh peningkatan belanja Kementerian/Lembaga (K/L) maupun non-K/L. Sementara Transfer Ke Daerah (TKD) terealisasi sebesar Rp306,1 triliun atau 44,2 persen dari target APBN.

Dalam rilis itu juga disebutkan, bahwa realisasi Pembiayaan Anggaran mencapai Rp379,4 triliun atau 55,1 persen dari target APBN.

Hal ini juga terlihat pada kinerja fiskal yang tetap terjaga dan terkelola dengan baik. Selain itu, defisit APBN juga telah sesuai dengan perencanaan sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen PDB. Posisi ini menunjukkan, adanya peran strategis APBN sebagai instrumen stabilisasi serta pengungkit pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Rp 268 Triliun untuk MBG Masuk Pos Pendidikan, DPR dan Pemerintah Buka Suara

Keseimbangan Primer juga menunjukkan kondisi positif dengan surplus Rp58,6 triliun. Hal ini mencerminkan pengelolaan fiskal yang tetap sehat dan disiplin di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah.

Sementara pada perkembangan perekonomian di tengah dinamika global sepanjang tahun 2026, perekonomian Indonesia tetap mampu menunjukkan kinerja yang kuat dan resilien.

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dengan baik. Seperti yang terlihat pada triwulan I tahun 2026, di mana ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen (yoy), melampaui rata-rata pertumbuhan negara-negara G20 maupun ASEAN. Capaian ini juga memperlihatkan ketahanan ekonomi domestik yang tetap kuat di tengah perkembangan kondisi global.

Pada indikator aktivitas manufaktur, Indonesia kembali menunjukkan perbaikan. Mei 2026, PMI Manufaktur Indonesia berada di level 50,0, dan kembali memasuki zona ekspansi.

Baca Juga: Daftar 10 Kementerian dengan Anggaran Jumbo di APBN 2026

Sampai dengan April 2026 performa sektor eksternal Indonesia tetap kuat, hal ini tercermin dari surplus neraca perdagangan yang berlanjut selama 72 bulan berturut-turut.

Kinerja ini didukung oleh ekspor yang tetap solid. Sepanjang Januari hingga April 2026, nilai ekspor mencapai USD92,15 miliar, tumbuh 5,48 persen (yoy). Keberlanjutan surplus neraca perdagangan ini juga menunjukkan daya saing ekspor Indonesia yang tetap terjaga sekaligus mencerminkan aktivitas ekonomi dan investasi yang terus bergerak positif.

“Kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga, ditunjukkan oleh berlanjutnya arus modal asing masuk atau net inflow pada Triwulan II tahun 2026. Hingga 3 Juni 2026, akumulasi net inflow tercatat Rp60,9 triliun, terutama didorong oleh investasi pada SBN dan SRBI. Secara kumulatif sepanjang tahun 2026, aliran modal asing masuk mencapai Rp32,8 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari instrumen SBN dan SRBI. Pemerintah bersama otoritas terkait akan terus menjaga stabilitas sektor keuangan dan memperkuat kepercayaan pasar guna mendukung ketahanan ekonomi nasional,” tulis rilis tersebut. 

Adapun tingkat inflasi bulan Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen (yoy), dengan stabilitas harga yang tetap terjaga, sehingga tingkat inflasi tetap terkendali dan berada dalam target Bank Indonesia.

Meski begitu, demi menjaga stabilitas sektor keuangan dan kepercayaan pasar, pemerintah juga berupaya dalam berbagai hal antara lain melalui pemantauan aktif terhadap nilai tukar Rupiah, yield SBN, serta berbagai indikator risiko fiskal agar tetap berada pada level yang terkendali.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT
- Advertisment -