Bantentv.com – Tradisi qunutan atau sering juga disebut kupatan pertengahan Ramadan adalah salah satu kearifan lokal masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa dan Banten.
Tradisi ini dilakukan saat memasuki malam atau hari ke-15 Ramadan, sebagai penanda bahwa separuh perjalanan ibadah puasa telah dilalui.
Di sejumlah daerah seperti Serang, Pandeglang, hingga wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, tradisi ini memiliki sebutan berbeda, seperti qunutan, kupatan, atau selamatan tengah Ramadan.
Meski berbeda nama, maknanya tetap sama, yakni ungkapan rasa syukur serta doa agar umat Muslim diberi kekuatan untuk menyelesaikan ibadah puasa hingga akhir Ramadan.
Asal Usul Tradisi Qunutan/Kupatan
Kata qunutan diyakini berkaitan dengan doa qunut yang dibaca pada salat Subuh di pertengahan Ramadan menurut sebagian tradisi keagamaan. Momentum ini kemudian berkembang menjadi tradisi sosial berupa doa bersama dan makan bersama.
Sementara istilah kupatan berasal dari kata ketupat. Ketupat dalam filosofi Jawa sering dimaknai sebagai simbol ngaku lepat (mengakui kesalahan), sehingga momen ini juga menjadi ruang untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan memperkuat kebersamaan antarwarga.
Menu khas yang hampir selalu ada adalah ketupat dengan sayur santan. Setiap daerah punya variasi, tetapi umumnya berisi labu siam, kacang panjang, dan tahu/tempe dengan kuah santan gurih.

Resep Sederhana Sayur Ketupat Qunutan
Bahan:
- 5–7 buah ketupat matang
- 1 buah labu siam, potong korek api
- 1 ikat kacang panjang, potong 3 cm
- 5 potong tahu putih (opsional)
- 800 ml santan sedang
- 2 lembar daun salam
- 1 ruas lengkuas, memarkan
- Bumbu halus:
- 5 siung bawang merah
- 3 siung bawang putih
- 3 butir kemiri
- 1 sdt ketumbar
- Garam dan gula secukupnya
Cara memasak:
- Tumis bumbu halus hingga harum.
- Masukkan daun salam dan lengkuas.
- Tambahkan santan, aduk perlahan agar tidak pecah.
- Masukkan labu siam, kacang panjang, dan tahu.
- Masak hingga sayuran empuk dan bumbu meresap.
- Sajikan hangat bersama ketupat yang dipotong-potong.
Tips Agar Qunutan Lebih Bermakna
- Libatkan anak-anak dalam persiapan. Biarkan mereka membantu menganyam ketupat atau membungkus makanan. Ini jadi pembelajaran budaya yang berharga.
- Masak secukupnya, berbagi secukupnya. Esensi qunutan bukan kemewahan, tapi kebersamaan.
- Awali dengan doa dan refleksi. Ingatkan keluarga bahwa Ramadan tinggal separuh lagi—apa yang sudah kita perbaiki? Apa yang masih perlu ditingkatkan?
- Jaga kesederhanaan. Yang membuat hangat bukan lauknya, tapi suasananya.
- Qunutan bukan sekadar tradisi turun-temurun. Ia adalah pengingat bahwa perjalanan Ramadan adalah proses. Di hari ke-15, kita seperti diajak berhenti sejenak, menarik napas, lalu melangkah lagi dengan hati yang lebih bersih.
- Ketupat yang terbungkus janur mengajarkan kita: hidup ini terjalin dari kesalahan dan pengakuan. Santan yang menyatukan sayur dan bumbu seperti kebersamaan yang menyatukan perbedaan.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang merawat rasa—rasa syukur, rasa peduli, dan rasa ingin menjadi lebih baik.
Dan tradisi qunutan mengajarkan itu dengan cara yang hangat dan sederhana.