Serang, Bantentv.com – Saat sebagian besar warga masih terlelap, dapur kecil di Kampung Bojong Loa, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, sudah dipenuhi aroma kue tradisional. Sejak tengah malam, tangan-tangan cekatan mulai bekerja, memastikan ribuan kue basah siap dinikmati masyarakat saat pagi tiba.
Di balik aktivitas tanpa henti itu, ada Marsita, pelaku UMKM yang enam tahun terakhir setia menghidupkan cita rasa kue tradisional.
Setiap hari, ia memproduksi sekitar 25 jenis kue basah, mulai dari arem-arem, onde-onde, kue cincin, dadar gulung, bugis, cucur, lemper, bolu kukus, bakpau, hingga risol isi daging.
Proses produksi dimulai sejak pukul 00.00 WIB hingga menjelang subuh. Tanpa mesin modern, sebagian besar kue dibuat secara manual demi menjaga rasa dan kualitas.
Pukul 06.00 WIB, kue-kue tersebut mulai dipasarkan dan terus diburu pembeli hingga malam hari.
Baca Juga: Tips Membuat Kue Pasung Khas Banten agar Lembut, Legit, dan Anti Bantat
Dengan harga terjangkau, berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per potong, kue basah produksi Marsita mampu menembus penjualan hingga sekitar 2.000 potong per hari.
Dari usaha sederhana itu, ia mengantongi keuntungan bersih rata-rata sekitar Rp6 juta per bulan.
Marsita mengaku, usaha yang kini dijalaninya bukan hasil instan. Semuanya berawal dari pengalaman membantu orang lain berjualan kue, hingga akhirnya berani membuka usaha sendiri.
“Awalnya saya hanya ikut kerja jualan kue dengan orang lain. Dari situ saya belajar pelan-pelan, sampai akhirnya memberanikan diri buka usaha sendiri. Alhamdulillah, sekarang sudah jalan enam tahun,” ujar Marsita.
Tak hanya menopang ekonomi keluarga, usaha kue basah ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Buka Lapangan Kerja untuk Warga Sekitar

Saat ini, empat orang karyawan dilibatkan dalam proses produksi dan penjualan harian.
Mayoritas pesanan datang dari berbagai kegiatan masyarakat, seperti pernikahan, pengajian, hingga syukuran.
Beberapa varian menjadi primadona dan selalu habis lebih cepat dibanding kue lainnya.
“Yang paling banyak dicari itu risol isi daging, lemper, sama bolu ijo. Kalau sudah produksi, biasanya cepat habis,” katanya.
Meski permintaan terus meningkat, Marsita mengaku belum mampu melayani pesanan ke luar daerah.
Keterbatasan tenaga dan sarana transportasi menjadi tantangan tersendiri untuk memperluas usaha.
Baca Juga: Resep Chicken Nugget Homemade, Ala Fiesta & Kanzler
“Sebenarnya ada permintaan dari luar daerah, tapi kami belum sanggup. Tenaga masih terbatas dan kendaraan juga belum ada,” tuturnya.
Di tengah gempuran makanan modern, kue basah tradisional dari Bojong Loa tetap bertahan dan dicintai.
Dari dapur sederhana, Marsita membuktikan bahwa rasa, ketekunan, dan kerja keras masih menjadi kunci utama menjaga warisan kuliner tetap hidup.