Cilegon, Bantentv.com – Memasuki musim penghujan, potensi bencana hidrometeorologi di Kota Cilegon kembali meningkat.
Sebagian besar wilayah kota tersebut kini berada dalam kondisi yang harus diwaspadai, terutama karena tujuh dari delapan kecamatan tercatat memiliki kerawanan terhadap banjir.
Situasi ini diungkapkan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon, Suhendi, yang menyampaikan pemetaan terbaru terkait titik-titik rawan bencana.
Menurut Suhendi, Kecamatan Ciwandan menjadi wilayah dengan titik kerawanan terbanyak. Ia menjelaskan bahwa beberapa kelurahan di kecamatan tersebut memiliki kondisi yang memungkinkan terjadinya banjir, terutama akibat tersumbatnya drainase dan adanya limpasan air dari kawasan industri.
“Kecamatan Ciwandan itu ada di Kelurahan Gunungsugih, Randakari, Kepuh, Kubangsari. Penyebabnya drainase tersumbat dan limpasan air dari kawasan industri,” katanya.
Selain Ciwandan, enam kecamatan lain yang juga berisiko meliputi Citangkil, Cibeber, Jombang, Purwakarta, Grogol, dan Pulomerak.
Faktor penyebabnya bervariasi, mulai dari pertemuan aliran anak sungai, kondisi saluran air yang tidak memadai, sungai yang meluap, hingga penyempitan dan sedimentasi.
Beberapa wilayah bahkan menghadapi tantangan tambahan seperti limpasan air dari daerah tinggi, topografi yang rendah, serta potensi banjir rob
“Ada yang karena pertemuan aliran anak sungai, buruknya saluran air, sungai meluap, penyempitan, sedimentasi, drainase belum optimal, limpasan air dari daerah tinggi, topografi rendah hingga potensi banjir rob,” ucap Suhendi.
BPBD Cilegon disebut telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk mengurangi risiko tersebut.
Upaya yang dilakukan tidak hanya bersifat fisik seperti normalisasi dan pembangunan drainase, tetapi juga langkah non-struktural seperti edukasi masyarakat dan pemasangan Early Warning System (EWS).
Baca Juga: Cegah Banjir, Pemkot Cilegon Mulai Keruk Sampah di Sungai
Suhendi menegaskan bahwa integrasi mitigasi banjir juga telah masuk ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Cilegon sebagai langkah jangka panjang.
“Seperti normalisasi, pembangunan drainase, pemasangan alat Early Warning System (EWS), edukasi ke masyarakat, hingga integrasi mitigasi banjir dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Cilegon sudah kami lakukan,” ungkapnya.
Di luar potensi banjir, Kota Cilegon juga memiliki kerentanan terhadap tanah longsor. Meski kejadiannya jarang, sementara ini terdapat dua kecamatan yang berpotensi terdampak, yaitu Pulomerak dan Grogol.
Suhendi mengungkapkan bahwa rencana relokasi warga di beberapa titik sempat diwacanakan, namun masih memerlukan kajian lanjutan sebelum diputuskan lebih jauh.
“Yang ada potensi di Kecamatan Pulomerak dan Grogol. Pak Walikota pernah mewacanakan untuk warga Lingkungan Sukasari, Kelurahan Tamansari, Pulomerak untuk direlokasi, tapi perlu kajian tindaklanjut,” tutupnya.