BerandaBeritaTrump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz, Ketegangan Timur Tengah Memanas

Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz, Ketegangan Timur Tengah Memanas

Saluran WhatsApp

Bantentv.com – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus memanas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras melalui media sosial, dengan ultimatum agar Iran segera membuka Selat Hormuz bagi seluruh kapal internasional.

Dalam unggahan yang dirilis Selasa, 7 April 2026, Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika jalur pelayaran vital tersebut tidak segera dibuka.

Meski mengeluarkan ancaman keras, Trump juga menyebut masih ada “peluang besar” tercapainya kesepakatan dengan Teheran. Namun pernyataan tersebut mendapat respons keras dari Iran yang menilai ultimatum Trump sebagai sikap yang tidak berdaya dan tidak rasional.

Baca Juga: Haji 2026 Berisiko Terganggu, Ini Dampak Konflik Iran dan Israel

Selat Hormuz Jadi Pusat Ketegangan

Ketegangan meningkat setelah Iran menghambat arus kapal di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia. Gangguan tersebut memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi di berbagai negara.

Ultimatum terbaru Trump muncul setelah ia mengumumkan salah satu pilot jet tempur F-15 Amerika Serikat yang sebelumnya ditembak jatuh di Iran berhasil diselamatkan. Insiden tersebut terjadi pada Jumat, 3 April 2026, setelah lebih dari satu bulan konflik berlangsung.

Iran terus membalas serangan udara Amerika Serikat dan Israel dengan menyerang sejumlah fasilitas milik AS di negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Washington.

Baca Juga: Iran Batasi Selat Hormuz, Ini Daftar Negara yang Tetap Diizinkan Melintas

Iran Balas Ancaman Trump

Melalui platform Truth Social, Trump menuliskan ultimatum dengan nada keras agar Iran segera membuka kembali Selat Hormuz.

Trump juga menyatakan kepada media AS bahwa dirinya mempertimbangkan langkah ekstrem apabila kesepakatan tidak segera tercapai, termasuk kemungkinan mengambil alih sumber energi Iran.

Namun pihak Iran membantah adanya komunikasi langsung dengan pemerintahan Trump. Juru bicara kantor presiden Iran, Mahdi Tabatabaei, menyebut Selat Hormuz dapat kembali dibuka apabila terdapat kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat perang.

Baca Juga: Lewati Selat Hormuz Kini Berbayar, Iran Patok Tarif Hingga 2 Juta Dolar per Kapal

Iran juga mengindikasikan rencana untuk mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi jalur tersebut.

Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi dari komando militer pusat Iran menilai ancaman Trump sebagai tindakan yang tidak seimbang dan tidak rasional, serta memperingatkan konsekuensi serius jika konflik terus berlanjut.

Serangan Berlanjut di Kawasan Timur Tengah

Sementara itu, Israel dilaporkan menyerang sejumlah infrastruktur sipil Iran, termasuk fasilitas petrokimia pada Sabtu, 4 April 2026. Pejabat pertahanan menyebut Israel menunggu persetujuan Amerika Serikat untuk melanjutkan serangan terhadap fasilitas energi Iran dalam waktu dekat.

Serangan AS dan Israel juga dilaporkan menghantam Bandara Internasional Qasem Soleimani di barat daya Iran pada Minggu, 5 April 2026.

Baca Juga: Stok BBM Aman, Pertamina Siaga Hadapi Potensi Penutupan Selat Hormuz

Sebagai balasan, Iran meluncurkan drone dan rudal ke wilayah Israel serta sejumlah negara sekutu AS di kawasan Teluk.

Sebuah gedung hunian di Kota Haifa, Israel, dilaporkan terkena rudal balistik hingga menyebabkan empat orang terluka. Sementara itu, otoritas Abu Dhabi menyatakan tengah menangani kebakaran di fasilitas petrokimia Borouge akibat puing rudal Iran.

Serangan drone Iran juga dilaporkan merusak fasilitas minyak dan petrokimia di Kuwait serta sejumlah instalasi industri di Bahrain.

Situasi tersebut menunjukkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih berpotensi meningkat dan berdampak pada stabilitas ekonomi global.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT
- Advertisment -