Minggu, Juli 14, 2024
BerandaBeritaPanduan Ibadah Kurban saat Kondisi Wabah PMK Menurut MUI

Panduan Ibadah Kurban saat Kondisi Wabah PMK Menurut MUI

Serang, Bantentv.com – Hanya dalam hitungan hari, umat muslim sebentar lagi akan memasuki bulan Zulhijah. Bulan Zulhijah merupakan bulan yang di dalamnya terdapat perayaan Idul Adha bagi umat muslim. Dalam perayaan Idul Adha tersebut, umat muslim melakukan berbagai ibadah. Ibadah yang biasa dilakukan seperti melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu, puasa sunah arafah, salat Idul Adha, dan terakhir memotong hewan kurban bagi yang mampu.

Untuk tahun ini, pelaksanaan ibadah kurban di Indonesia, khususnya di Banten dihantui oleh maraknya penyebaran wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak di Indonesia. Diketahui, penyakit ini hanya menyerang hewan ternak berkuku genap atau belah seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. Sementara hewan-hewan ternak tersebut merupakan hewan yang biasa dijadikan hewan kurban oleh umat muslim di Indonesia. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat yang akan melakukan ibadah kurban.

Menanggapi hal tersebut, baru-baru ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa MUI No. 32 Tahun 2022 Tentang Hukum dan Panduan Pelaksanaan Ibadah Kurban Saat Wabah PMK yang diterbitkan pada 31 Mei 2022. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan pelaksanaan ibadah kurban adalah sebagai berikut:

  1. Hewan yang terkena PMK dengan gejala ringan seperti lepuh ringan di antara kuku, kondisi lesu, tidak nafsu makan, dan keluar air liur berlebih dari biasanya, hukumnya sah dijadikan hewan kurban.
  2. Hewan yang terkena PMK dengan gejala berat seperti lepuh pada kuku sehingga menyebabkan terlepas bahkan pincang dan tidak bisa berjalan, maka hukumnya tidak sah dijadikan hewan kurban.
  3. Hewan yang terkena PMK dengan gejala berat dan sembuh saat hari Nahr (10 Zulhijah) atau pada hari Tasyrik (11,12,13 Zulhijah) hukumnya sah dijadikan hewan kurban.
  4. Hewan yang terkena PMK dengan gejala berat dan belum sembuh saat hari Nahr atau hari Tasyrik, hukumnya tidak sah dijadikan hewan kurban.

Mengutip dari laman ipb.ac.id, walaupun penyebaran PMK ini tergolong cepat menular, tapi menurut Guru Besar Imunologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof. I Wayan Teguh Wibawa menyampaikan, penyakit mulut dan kuku merupakan penyakit hewan berkuku genap yang mudah menular namun tingkat kematiannya rendah.

“Penanganan dini dari penyakit ini akan memberikan kesembuhan yang tinggi,” terangnya. (kholi/red)

TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

DIBAGIKAN

KOMENTAR