BerandaBeritaMulai dari Perpustakaan, Kreasi Cendikia Pustaka Ajak Petani Pandeglang Lebih Cerdas dan...

Mulai dari Perpustakaan, Kreasi Cendikia Pustaka Ajak Petani Pandeglang Lebih Cerdas dan Inovatif

Saluran WhatsApp

Pandeglang, Bantentv.com – Sektor pertanian merupakan salah satu pilar utama kehidupan masyarakat. Namun, persoalan kesejahteraan petani hingga kini masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.

Berangkat dari kondisi tersebut, Kreasi Cendikia Pustaka menggelar talk show interaktif bertajuk Agraria Bukan Maritim di Lembur Kula, Desa Pasirpeuteuy, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Sabtu, 13 Juni 2026.

Mengusung tagline No Farmer, No Food, No Future (Tanpa Petani, Tidak Ada Makanan, Tidak Ada Masa Depan), kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi para petani untuk membahas berbagai persoalan pertanian dari sudut pandang masyarakat akar rumput. Ratusan peserta yang didominasi petani setempat tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut.

Ketua penyelenggara sekaligus perwakilan Kreasi Cendikia Pustaka, Chotibul Umam, mengatakan Kabupaten Pandeglang memiliki potensi agraria yang sangat besar, mulai dari wilayah dataran rendah hingga dataran tinggi. Namun, menurutnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena kesejahteraan petani masih tergolong rendah.

Baca Juga: Meski Tertinggi di Banten, Cilegon Terus Dorong Budaya Literasi

Sebagai langkah awal, pihaknya memilih membangun kesadaran pertanian melalui jalur literasi dengan meresmikan sebuah perpustakaan di kawasan pertanian kaki Gunung Karang.

“Kami ingin menegaskan bahwa masyarakat yang cerdas lahir dari petani yang cerdas. Kami tidak perlu lagi mengajarkan petani cara bertani, karena mereka sudah memahami hal itu. Karena itu, kami memilih perpustakaan sebagai ruang belajar bersama. Di sini mereka bisa berkumpul, berdiskusi, merumuskan ide-ide baru, dan belajar berbagai hal baru,” kata Umam.

Ia berharap perpustakaan tersebut dapat menjadi inkubator lahirnya inovasi yang mampu membawa perubahan bagi petani, Pandeglang, hingga bangsa Indonesia.

Menurut Umam, salah satu persoalan utama yang dihadapi petani saat ini adalah rendahnya literasi konseptual. Selama ini sebagian besar petani memperoleh pengetahuan bertani secara otodidak atau diwariskan secara turun-temurun.

“Di era sekarang, cara seperti itu tidak lagi cukup. Petani membutuhkan landasan konseptual yang baik, terarah, dan terukur. Tanpa inovasi yang lahir dari literasi, akan sulit meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Baca Juga: Pemkab Serang Tingkatkan Literasi hingga Desa

Gagasan tersebut juga diamini oleh Pendiri Perpustakaan Jagaraksa, Ade Kardiana. Ia menjelaskan, perpustakaan didirikan karena melihat hasil produksi antarpetani di wilayah tersebut sering kali berbeda akibat metode pengolahan yang tidak seragam.

“Selama ini petani mengandalkan pengalaman masing-masing yang diwariskan secara turun-temurun. Bahkan cara mengolah tanah dan menanam sayuran bisa berbeda antara satu petani dengan yang lain. Karena itu kami mendirikan perpustakaan ini agar petani memiliki referensi dan dapat mempelajari prosedur budidaya yang benar,” ujarnya.

Ade yang saat ini fokus mengembangkan komoditas kopi di kawasan kaki Gunung Karang mengaku merasakan manfaat langsung dari budaya membaca. Menurutnya, literasi membuka wawasan baru tentang berbagai teknik budidaya yang sebelumnya tidak diketahui.

“Ternyata menanam kopi bukan hanya dari biji. Ada teknik okulasi, perbanyakan melalui batang, dan berbagai metode lainnya. Dengan membaca buku, pengetahuan kami semakin bertambah. Harapannya, petani di sini dapat menghasilkan produk sayuran dan kopi yang berkualitas sesuai standar budidaya yang baik,” katanya.

Baca Juga: Pemkot Cilegon akan Bangun Perpustakaan Modern

Selain berfungsi sebagai ruang belajar, nama Perpustakaan Jagaraksa juga memiliki nilai historis dan filosofis yang kuat bagi masyarakat setempat. Ade menjelaskan, nama tersebut terinspirasi dari keberadaan situs petilasan Ki Buyut Jagaraksa yang berada tidak jauh dari lokasi perpustakaan.

“Di dekat sini ada petilasan Panokokan, tempat makam Ki Buyut Jagaraksa. Banyak peziarah yang datang ke sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Sumur Tujuh. Nama Jagaraksa saya pilih karena memiliki makna menjaga rasa. Artinya, apa pun yang kita lakukan, termasuk bertani, harus diawali dengan menjaga rasa dan hati,” tuturnya.

Melalui sinergi antara literasi dan semangat agraria, para petani di kaki Gunung Karang diharapkan tidak hanya menjadi penggarap lahan, tetapi juga mampu tumbuh menjadi petani modern yang cerdas, inovatif, dan berdaya saing.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT
- Advertisment -