BerandaBeritaLebih dari 10 Tahun Bertahan, Sarudin Jadi Satu-satunya Perajin Emping di Desa...

Lebih dari 10 Tahun Bertahan, Sarudin Jadi Satu-satunya Perajin Emping di Desa Dahu

Saluran WhatsApp

Serang, Bantentv.com – Sarudin merupakan perajin emping melinjo asal Desa Dahu, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang. Usaha pembuatan emping telah ditekuninya selama lebih dari 10 tahun. Hingga kini, Sarudin dikenal sebagai satu-satunya warga di desanya yang secara konsisten menjalankan usaha produksi emping secara mandiri.

Dalam menjalankan usahanya, Sarudin dibantu oleh sang istri. Keduanya memproduksi emping setiap hari, mulai pagi hingga sore, dengan pembagian tugas yang meliputi pengolahan biji melinjo, proses penutukan, hingga penjemuran.

Setiap harinya, Sarudin menerima pesanan dari dua hingga tiga pelanggan dengan jumlah bahan melinjo berkisar antara 5 hingga 10 liter. Pesanan tidak hanya datang dari warga Desa Dahu, tetapi juga dari luar daerah, seperti Rangkasbitung dan sekitarnya.

Dalam sehari, Sarudin mampu memproduksi sekitar 7 liter emping dengan upah Rp8.000 per liter. Emping hasil produksinya memiliki ukuran lebih besar dibandingkan emping pada umumnya.

Baca Juga: Produk Olahan Emping Melinjo Khas Lebak Hingga ke Mancanegara

Jika biasanya satu keping emping hanya menggunakan satu hingga dua biji melinjo, Sarudin menggunakan tujuh hingga delapan biji melinjo untuk setiap emping, sehingga menghasilkan bentuk yang lebih tebal dan lebar.

Sarudin mengaku tetap menekuni pekerjaan tersebut karena di desanya tidak ada perajin emping lain. Menurutnya, proses pembuatan emping tergolong cukup rumit, terutama pada tahap menggabungkan biji melinjo untuk ditutuk agar membentuk emping yang bulat dan rapi.

“Proses membuat emping memerlukan waktu sekitar setengah jam, dimulai dari biji melinjo yang disangrai menggunakan pasir, kemudian dikupas dan ditutuk menggunakan besi di atas bantalan kayu,” ujarnya.

Baca Juga: Emping Menes Kuliner Khas Banten yang Masih Eksis

Ia menjelaskan, bantalan kayu untuk menutuk emping tidak bisa sembarangan. Kayu yang digunakan harus berasal dari pohon sawo atau pohon asam. Jika menggunakan jenis kayu lain, emping berisiko mudah retak atau pecah.

Tantangan terbesar dalam produksi emping terjadi saat musim hujan. Kondisi cuaca yang lembap membuat emping sulit dijemur dan berpotensi berjamur, sehingga Sarudin terpaksa menggunakan oven sebagai alternatif pengeringan.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Sarudin bersama istrinya tetap bertahan menekuni usaha emping yang telah menjadi sumber penghidupan keluarga selama bertahun-tahun.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT
- Advertisment -