Serang, Bantentv.com – Lebaran terasa kurang lengkap tanpa kehadiran kudapan tradisional di meja tamu. Di Kota Serang, gipang menjadi salah satu camilan yang selalu dicari saat momen Idulfitri.
Gipang yang terbuat dari beras ketan ini tetap menjadi pilihan utama masyarakat sebagai buah tangan saat bersilaturahmi.
Momen Hari Raya Idulfitri, geliat industri rumahan kue tradisional di Kota Serang mengalami peningkatan. Salah satu produk yang paling banyak diburu adalah gipang.
Di tengah maraknya kue modern, gipang tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai camilan khas yang digemari berbagai kalangan.

Di rumah produksi milik Sam’ani, perajin kue gipang asal Kampung Magelaran Cilik, Kelurahan Masjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, aktivitas produksi terlihat meningkat.
Aroma manis khas gipang terasa kuat, menandakan pesanan yang terus berdatangan menjelang Lebaran.
Menariknya, di tengah kenaikan harga bahan baku, perajin gipang memilih tidak menaikkan harga jual. Sebagai strategi, ukuran produk sedikit disesuaikan agar tetap terjangkau bagi konsumen.
Dalam kondisi normal, produksi gipang mencapai sekitar 25 kilogram per hari. Namun saat Lebaran, jumlahnya dapat meningkat hingga setengah kuintal.
Baca Juga: Musim Mudik, Sate Bandeng Jadi Oleh-Oleh Favorit di Kota Serang
Pemasaran gipang juga cukup luas, tidak hanya di Kota Serang, tetapi menjangkau Jakarta, Cilegon, hingga kawasan wisata Anyer. Hal ini menunjukkan bahwa gipang memiliki daya tarik yang kuat sebagai oleh-oleh khas daerah.
“Kalau untuk musim Lebaran seperti ini biasanya tergantung permintaan. Paling banyak itu bisa mencapai 50 lusin sekali kirim,” ujar Sam’ani.
Selain rasanya yang manis dan teksturnya yang renyah, gipang juga dikenal memiliki daya tahan yang cukup lama.
Jika disimpan di suhu ruangan yang sejuk atau di dalam kulkas, gipang dapat bertahan hingga empat bulan tanpa kehilangan kerenyahannya.
Bagi masyarakat yang melintas atau berkunjung ke Kota Serang, membawa pulang gipang menjadi pilihan sederhana untuk menjaga tradisi Lebaran.