Serang, Bantentv.com – Pemerintah Kota Serang melalui Dinas Kesehatan terus mengintensifkan berbagai program penanggulangan stunting sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas generasi masa depan.
Beragam intervensi dilakukan secara terukur dan berkelanjutan, mulai dari masa kehamilan hingga anak usia balita, guna memastikan penanganan stunting berjalan secara komprehensif.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Serang, Ahmad Hasanudin, mengungkapkan bahwa berdasarkan data terbaru tahun 2026, angka stunting masih menjadi perhatian serius di sejumlah kecamatan.
“Jika dilihat per kecamatan, kasus stunting tertinggi berada di Kecamatan Kasemen sebanyak 766 kasus, disusul Kecamatan Serang 402 kasus, Kecamatan Taktakan 284 kasus, Kecamatan Walantaka 325 kasus, Kecamatan Cipocok Jaya 57 kasus, dan Kecamatan Curug 16 kasus,” ujarnya, Kamis, 16 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa dinamika angka stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kelahiran baru serta anak yang telah melewati usia balita.
Meski demikian, upaya penurunan terus dilakukan melalui sejumlah program intervensi, salah satunya dengan pendekatan MBG (Ibu Hamil, Bayi, dan Balita).
Baca Juga: Pemkab Lebak Gencarkan Program Anak Asuh untuk Cegah Stunting
“Stunting bukan penyakit yang muncul secara instan. Ini merupakan kondisi yang terbentuk dalam jangka panjang, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun. Oleh karena itu, intervensi harus dilakukan sejak dini,” ujarnya.
Menurut Ahmad Hasanudin, fokus utama penanganan stunting terletak pada pemenuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.
Masa tersebut merupakan periode emas yang sangat menentukan tumbuh kembang anak, sehingga intervensi gizi menjadi prioritas utama dalam setiap program yang dijalankan.
Sebagai bentuk komitmen, Dinas Kesehatan Kota Serang telah melaksanakan berbagai program strategis, di antaranya rujukan balita stunting, rujukan balita gizi buruk, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala.
Selain itu, upaya lain meliputi pemantauan status gizi, pemberian makanan tambahan (PMT) lokal bagi balita berisiko stunting, distribusi kapsul vitamin A, hingga pemantauan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi anak usia 6 hingga 23 bulan.
Melalui berbagai program tersebut, Pemerintah Kota Serang optimistis angka stunting dapat terus ditekan secara bertahap.
Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas di masa mendatang.