Lebak, Bantentv.com – Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Jakarta, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) melaksanakan sosialisasi perubahan alur penumpang KA Lokal di Stasiun Rangkasbitung yang diterapkan sebagai bagian dari penataan layanan dan pemanfaatan fasilitas baru stasiun.
Sosialisasi ini ditujukan untuk memastikan penumpang memahami akses masuk dan keluar terbaru pada layanan KA Lokal serta memaksimalkan pemanfaatan fasilitas baru yang telah disiapkan.
Pengembangan Stasiun Rangkasbitung
Pengembangan Stasiun Rangkasbitung dilakukan untuk menjawab kebutuhan transportasi masyarakat yang terus meningkat. Dengan kapasitas pelayanan yang kini dapat mencapai hingga 83.000 penumpang per hari dari sebelumnya sekitar 26.000 penumpang.
Dari sisi operasional, terdapat penataan jalur dan peron yang lebih efisien. Jalur 2 diperuntukkan bagi kereta api lokal, jalur 3 melayani kereta barang, sementara jalur 4 dan 5 menjadi jalur operasional KRL.
Adapun jalur 6 hingga 9 disiapkan sebagai area stabling untuk mendukung pola operasi kereta api yang lebih fleksibel. Penataan ini diharapkan dapat meningkatkan ketertiban pergerakan penumpang, mengurangi titik antrean, serta menjaga ketepatan waktu perjalanan kereta.
Perubahan Alur Penumpang KA Lokal
Dengan diterapkannya alur baru, terdapat penyesuaian pergerakan penumpang KA Lokal.
Penumpang dari arah selatan dapat menuju area drop–off dan mengakses stasiun melalui Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) menggunakan tangga manual atau lift bagi penumpang prioritas.
Setelah mencapai JPO, penumpang diarahkan ke sisi kanan menuju area loket dan tap–in gate KA Lokal.
Baca Juga: Pembelian Tiket KA Lokal Wajib Sesuai Identitas, Tak Bisa Lagi Diwakilkan
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Jakarta, Ferdian Suryo Adhi Pramono, menyampaikan bahwa pengoperasian area layanan KA Lokal di Stasiun Rangkasbitung menjadi tahapan transformasi fasilitas dan pelayanan bagi masyarakat pengguna kereta api di Banten.
“Pengoperasian area layanan KA Lokal di Stasiun Rangkasbitung kami susun secara terencana untuk memastikan penumpang mendapatkan akses yang lebih tertib, aman, dan nyaman. Penataan alur masuk dan keluar pengguna KRL,” Jelasnya.
Sementara itu, penumpang dari arah utara atau Jalan Sunan Kalijaga dapat masuk melalui selasar dan pintu masuk gedung baru, sebelum melanjutkan ke concourse menggunakan eskalator atau lift menuju area loket.
Untuk alur keluar, penumpang KA Lokal diarahkan naik menuju eskalator atau lift pada area transit di lantai dua.
Dari titik tersebut, penumpang dapat melanjutkan perjalanan menuju layanan KRL dan pintu keluar utama di sisi kiri, atau memilih akses keluar alternatif melalui tangga manual di sisi kanan.
Penerapan alur baru ini diharapkan menciptakan perjalanan yang lebih teratur, nyaman, dan aman, terutama pada jam padat penumpang.
Dukungan Operasional KA Petani-Pedagang
Seiring pengoperasian fasilitas baru, Stasiun Rangkasbitung juga mulai melayani KA Petani–Pedagang relasi Merak–Rangkasbitung.
Kehadiran kereta ini disambut antusias oleh petani dan pedagang yang selama ini bergantung pada transportasi umum untuk membawa hasil bumi dan barang dagangan.
Dengan tarif terjangkau dan kapasitas khusus, layanan ini mempermudah distribusi produk pertanian dari wilayah Lebak dan sekitarnya menuju berbagai pusat perdagangan.
KA Petani–Pedagang diharapkan menjadi solusi transportasi yang lebih efisien dibandingkan moda angkutan darat konvensional, sekaligus membuka peluang bagi pelaku UMKM dalam memperluas jaringan usaha dan pasar.
Dengan konektivitas langsung ke Merak dan daerah lainnya, layanan ini menjadi dorongan bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Banten melalui penurunan biaya logistik, peningkatan efisiensi distribusi hasil bumi, serta percepatan mobilitas barang dan pelaku usaha di kawasan urban maupun rural.
Progres Stasiun Rangkasbitung
Perubahan alur KA Lokal ini diterapkan seiring kesiapan fasilitas inti stasiun yang saat ini telah mencapai realisasi fisik sebesar 95,84 persen.
Melalui penerapan layanan dan alur baru ini, seluruh sistem teknis, prosedural, dan pelayanan publik diuji secara menyeluruh sebelum implementasi penuh pada akhir tahun 2025.
Editor : Erina Faiha