Pandeglang, Bantentv.com – Gerakan untuk meningkatkan kesadaran di sektor pertanian hadir dari cara yang tidak biasa. Seorang pemilik Kafe Lembur Kula, Ade Kardiana, meresmikan Perpustakaan Jagaraksa di kawasan pertanian Gunung Karang sebagai bagian dari upaya mendorong peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan petani.
Menurut Ade, sektor pertanian merupakan pilar penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Namun hingga kini, persoalan kesejahteraan petani masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
Berangkat dari keresahan tersebut, ia menggagas pendirian perpustakaan sebagai ruang belajar sekaligus wadah berbagi pengetahuan bagi masyarakat.
Ade menjelaskan bahwa Kabupaten Pandeglang memiliki potensi agraria yang sangat besar, mulai dari wilayah dataran rendah hingga dataran tinggi.
Baca Juga: Mulai dari Perpustakaan, Kreasi Cendikia Pustaka Ajak Petani Pandeglang Lebih Cerdas dan Inovatif
Meski demikian, potensi tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal karena kesejahteraan petani masih relatif rendah.
Pendirian perpustakaan ini juga dilatarbelakangi oleh perbedaan hasil produksi antarpetani di wilayah Gunung Karang. Menurut Ade, perbedaan tersebut banyak dipengaruhi oleh metode pengolahan dan teknik budidaya yang belum seragam.
“Saya melihat dari petani-petani yang disini itu setiap prosesnya berbeda-beda, akhirnya saya mencoba untuk memberi ruang edukasi agar dapat menerapkan prosedur-prosedur penanaman yang baik. Karena yang saya perhatikan disini ada yang hasilnya bagus, ada yang kurang,” ujar Ade.

Melalui keberadaan perpustakaan ini, Ade berharap para petani dapat memperoleh referensi dan pengetahuan yang lebih luas mengenai teknik pertanian yang baik.
Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi sarana peningkatan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia di sektor pertanian.
Selain berfungsi sebagai ruang belajar, perpustakaan tersebut juga memiliki nilai historis dan filosofis yang kuat. Nama Perpustakaan Jagaraksa diambil dari keberadaan situs petilasan leluhur yang berada di wilayah setempat dan memiliki kedekatan dengan masyarakat Gunung Karang.
Ade menuturkan bahwa pemilihan nama perpustakaan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.