BerandaBeritaRp50 Ribu Tak Lagi Cukup, Curhat Ibu Rumah Tangga di Lebak Hadapi...

Rp50 Ribu Tak Lagi Cukup, Curhat Ibu Rumah Tangga di Lebak Hadapi Harga Pangan yang Terus Naik

Saluran WhatsApp

Lebak, Bantentv.com – Gejolak ekonomi nasional yang ditandai dengan pelemahan nilai tukar rupiah mulai menjalar hingga ke dapur rumah tangga di pedesaan. Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok membuat masyarakat berpenghasilan rendah semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh warga yang menggantungkan hidup dari penghasilan tidak tetap. Sejumlah warga mengaku, dengan uang Rp50.000 yang sebelumnya masih mampu memenuhi berbagai kebutuhan dapur, kini semakin kehilangan daya beli akibat terus merangkaknya harga pangan.

Menurut warga, uang Rp50.000 saat ini hanya cukup untuk membeli kebutuhan dasar dalam jumlah terbatas. Warga pun harus membagi pengeluaran untuk membeli berbagai kebutuhan pokok.

“Rp 50.000 sekarang cuma dapat sedikit. Kalau buat beli beras saja belum tentu cukup. Kebetulan hari ini masih ada stok beras di rumah. Kalau enggak ada, pasti enggak cukup,” ujar Suedah.

Baca Juga: Kenaikan Harga Plastik Hambat Penyaluran Bantuan Pangan di Kabupaten Serang

Salah satu warga yang merasakan dampaknya adalah Suedah. Ia mengaku terpaksa harus mengatur pengeluaran rumah tangga karena harga bahan pokok terus mengalami kenaikan.

“Ini ikan asin Rp 10.000, bawang Rp 10.000, cabai dan tomat Rp 5.000, tempe Rp 5.000. Sudah Rp 30.000 lebih, belum yang lain. Ikan segar juga enggak kebeli,” katanya.

Baca Juga: Harga Minyakita Tetap Rp15.700 per Liter, Pemerintah Perkuat Distribusi ke Pasar Rakyat

Di tengah keterbatasan tersebut, warga terpaksa mengubah pola konsumsi keluarga. Berbagai bahan makanan harus dihemat agar dapat mencukupi kebutuhan makan dalam sehari.

“Harapan saya cuma satu, rupiah bisa kembali stabil, jangan seperti sekarang. Yang punya gaji tetap saja mengeluh, apalagi saya yang enggak punya gaji. Saya cuma kerja serabutan kalau ada yang ngasih pekerjaan,” ujarnya.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa indikator ekonomi nasional bukan sekadar angka statistik dalam laporan makroekonomi. Dampaknya nyata, hadir di pasar tradisional, memengaruhi keputusan belanja keluarga, dan pada akhirnya menentukan isi meja makan masyarakat kecil di pedesaan.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT
- Advertisment -