Lebak, Bantentv.com – Seorang pedagang nasi uduk dan aneka gorengan keliling asal Kampung Turus, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, yang setiap pagi berjalan kaki berkeliling kampung menjajakan nasi uduk, risol ayam, cilok, dan berbagai gorengan demi memenuhi kebutuhan keluarganya, sangat mengeluhkan bahan baku yang terus mengalami kenaikan harga.
Dalam beberapa bulan terakhir, usaha yang menjadi sumber penghasilan utama keluarganya semakin tertekan karena hampir seluruh komponen biaya produksi mengalami kenaikan.
Dampak ekonomi makro merembet hingga ke sektor usaha mikro yang selama ini menjadi penyangga ekonomi masyarakat. Di tengah kenaikan harga minyak goreng, bahan baku makanan, hingga perlengkapan kemasan, para pedagang memilih bertahan dengan keuntungan yang semakin menipis demi menjaga pelanggan.
Baca Juga: Menabung Dari Hasil Berjualan Nasi Uduk Taswiyah Naik Haji
Salah satunya pedagang nasi uduk dan aneka gorengan, Dini, mengaku kondisi tersebut membuat dirinya berada dalam situasi serba sulit. Pasalnya, ia tidak bisa menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan yang mayoritas berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Di sisi lain, mempertahankan harga lama membuat keuntungan terus tergerus.
“Bingung kalo mau dinaikin harganya takut pelanggannya pada kabur ya, tapi kalau tetep segini harganya gak dapet untung di kitanya, jadi serba bingung,” kata Dini pegadang nasi uduk dan gorengan.
Baca Juga: Kopi Keliling, Tren Bisnis Kekinian dengan Modal Kecil
Di tengah kenaikan harga minyak goreng, harga tepung, kacang tanah, plastik pembungkus, hingga kertas nasi juga mengalami kenaikan dalam waktu relatif singkat. Akibat dampak tersebut, keuntungan yang diperoleh semakin menipis. Bahkan, hasil penjualan harian kerap hanya cukup untuk menutup modal dan biaya operasional.
Editor : Erina Faiha