BerandaOpiniMampukah Generasi Z Mempertahankan Identitas Etniknya di Tengah Arus Budaya Global?

Mampukah Generasi Z Mempertahankan Identitas Etniknya di Tengah Arus Budaya Global?

Saluran WhatsApp

Bantentv.com- Di era digital seperti saat ini, dunia terasa semakin dekat. Hanya dengan satu genggaman ponsel, Generasi Z bisa menikmati musik dari Korea Selatan, mengikuti tren fesyen dari Eropa, atau menggunakan istilah populer dari berbagai negara dalam percakapan sehari-hari. 

Media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan X telah menjadi jendela yang mempertemukan berbagai budaya tanpa batas ruang dan waktu.

Namun, di tengah derasnya arus informasi dan budaya global tersebut, muncul pertanyaan yang menarik untuk dibahas: apakah Generasi Z masih mampu mempertahankan identitas etniknya?

Identitas Enik sebagai Bagian dari Jati Diri

Identitas etnik tidak hanya berkaitan dengan asal-usul seseorang, tetapi juga mencerminkan rasa memiliki terhadap budaya yang diwariskan oleh keluarga dan lingkungan tempat ia tumbuh. 

Bahasa daerah, adat istiadat, kesenian tradisional, hingga nilai-nilai budaya merupakan bagian dari identitas tersebut. 

Menurut Jean S. Phinney, identitas etnik terbentuk melalui proses mengenal, memahami, dan menumbuhkan komitmen terhadap budaya yang dimiliki. 

Dengan kata lain, identitas etnik akan semakin kuat ketika seseorang tidak hanya mengetahui budayanya, tetapi juga merasa bangga menjadi bagian darinya.

Pengaruh Budaya Global pada Generasi Z

Tidak dapat dipungkiri, budaya global memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan Generasi Z. Penggunaan istilah seperti bestie, slay, atau literally dalam percakapan sehari-hari menjadi contoh sederhana bagaimana budaya luar dapat dengan mudah masuk ke dalam kehidupan generasi muda. 

Bahkan, Tidak sedikit pula yang lebih mengenal tren internasional dibandingkan tradisi dari daerah asalnya sendiri.

Kondisi ini sering memunculkan kekhawatiran bahwa budaya lokal akan semakin terpinggirkan. 

Apalagi, budaya global sering kali dianggap lebih modern, menarik, dan sesuai dengan perkembangan zaman. 

Akibatnya, sebagian anak muda mulai jarang menggunakan bahasa daerah, kurang mengenal kesenian tradisional, atau merasa asing dengan budaya yang sebenarnya menjadi bagian dari identitas mereka.

Media Sosial, Ancama atau Peluang?

Meski demikian, melihat media sosial hanya sebagai ancaman bagi budaya lokal tentu tidak sepenuhnya tepat. Faktanya, banyak anak muda yang justru memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan kembali budaya Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.

Salah satu contohnya adalah Dara Sarasvati. Melalui konten-kontennya, ia sering menampilkan kebaya, batik, dan berbagai unsur budaya Nusantara dengan cara yang elegan dan dekat dengan kehidupan generasi muda. 

Kehadirannya menunjukkan bahwa budaya tradisional tetap bisa tampil modern tanpa kehilangan nilai-nilai yang dimilikinya.

Contoh lain adalah Vansa.be yang dikenal sebagai “Oppa Sunda Korea”. Dengan gaya yang santai dan menghibur, ia memperkenalkan bahasa Sunda kepada jutaan pengikutnya.

Bahasa daerah yang sering dianggap kuno justru tampil sebagai sesuatu yang unik, menarik, dan membanggakan.

Selain itu, akun Culture Creative juga menghadirkan konten interaktif yang mengajak audiens mengenal alat musik tradisional, budaya daerah, hingga berbagai fakta menarik tentang Indonesia. 

Melalui permainan dan kuis yang ringan, budaya lokal diperkenalkan dengan cara yang menyenangkan dan mudah diterima oleh generasi muda.

Budaya Lokal Tetap Relevan di Era Digital

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya menjadi pintu masuk budaya global, tetapi juga dapat menjadi ruang baru bagi budaya lokal untuk berkembang. 

Apa yang dahulu hanya dikenal dalam lingkup daerah tertentu kini dapat menjangkau jutaan orang melalui satu unggahan. 

Budaya lokal tidak lagi terbatas pada buku pelajaran, museum, atau acara adat, melainkan hadir di ruang digital yang akrab dengan kehidupan Generasi Z.

Jika dilihat melalui teori Jean S. Phinney, para kreator tersebut dapat dikatakan telah mencapai tahap achieved identity, yaitu kondisi ketika seseorang telah mengenal budayanya secara mendalam, merasa bangga terhadapnya, dan berkomitmen untuk mempertahankannya. 

Mereka membuktikan bahwa identitas etnik tidak harus hilang karena modernisasi. Sebaliknya, identitas tersebut dapat beradaptasi dan berkembang seiring kemajuan teknologi.

Menyeimbagkan Budaya Global dan Budaya Lokal

Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang memilih antara budaya global atau budaya lokal. Keduanya dapat berjalan berdampingan. 

Budaya global membuka kesempatan untuk belajar, memperluas wawasan, dan memahami keberagaman dunia. Sementara itu, budaya lokal membantu seseorang mengenal akar, sejarah, dan jati dirinya.

Tantangan terbesar bagi Generasi Z bukanlah keberadaan budaya global itu sendiri, melainkan bagaimana mereka menyikapinya. 

Di tengah berbagai tren yang terus bermunculan, penting untuk tetap mengenal, menghargai, dan melestarikan budaya yang dimiliki. 

Sebab, mempertahankan identitas etnik di era digital bukan berarti menolak budaya luar, melainkan mampu menyeimbangkan keterbukaan terhadap dunia dengan kebanggaan terhadap budaya sendiri.

Dengan demikian, Generasi Z tetap memiliki peluang besar untuk mempertahankan identitas etniknya. 

Bahkan, melalui media sosial, mereka dapat menjadi generasi yang tidak hanya menjaga budaya lokal tetap hidup, tetapi juga memperkenalkannya kepada dunia. 

Terkadang, langkah sederhana seperti membuat video, membagikan cerita budaya, atau menggunakan bahasa daerah di media sosial sudah menjadi bentuk nyata dalam menjaga identitas budaya agar tetap relevan di tengah arus globalisasi.

Artikel ini ditulis oleh Hani, mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Banten. Konten telah melalui proses penyuntingan oleh tim redaksi.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT

Kehilangan Teman Naik Gunung

Yang Saya Dengar dari Timor Leste

- Advertisment -