Bantentv.com – Walikotanya semangat. Wakilnya siap gas. Kompak. Ada Satgas Percepatan Pembangunan. Ketuanya masih muda. Wahyu Nurjamil. Lengkap. Mereka ingin Kota Serang betul-betul menjadi ibu kota provinsi.
Bukan sekadar status. Tapi terlihat. Terasa. Nyata secara fisik. Semangat itu mulai tampak. Perubahan ada. Tidak selalu menunggu APBD. Ada yang jemput bola. Swasta ikut. Semoga yang lain juga ikut. BUMN ikut. BUMD jangan ketinggalan. Kota bergerak. Tumbuh.
Seperti lahan kosong yang ditumbuhi banyak hal. Tidak perlu dipupuk. Tapi tetap tumbuh. Begitu juga Kota Serang. Dari yang pendidikan terendah, yang putus sekolah, sampai profesor. Semua datang. Semua ada. Menaruh harapan. Membangun harapan.
Penduduknya sekira 756 ribu jiwa. Tapi siang hari, jumlah orang di Kota Serang tidak lagi 756 ribu. Bisa mendekati satu juta orang. Mereka datang. Bekerja. Berdagang. Mengurus urusan. Kendaraan pun ikut tumbuh.
Bapenda Banten mencatat, tahun 2026 di Kota Serang: Roda empat 63.500 unit lebih.
Sepeda motor 275 ribu unit. Totalnya sekira 338 ribu kendaraan. Tahun 2025, hanya sekira 318 ribu unit. Dalam kajian transportasi perkotaan, setiap kendaraan rata-rata bergerak satu sampai dua kali dalam sehari.
Artinya, pergerakan kendaraan di Serang bisa mencapai 700 ribu. Bahkan mendekati 1 juta perjalanan per hari. Pagi, saat waktu berangkat kerja, berangkat sekolah, kendaraan ramai. Siang agak berkurang. Sore kembali padat.
Dulu lengang. Sekarang padat. Sesekali macet. Bukan karena jalan menyempit. Tapi karena aktivitas yang melampaui kapasitas. Dan tekanan itu tidak hanya terlihat. Tapi juga dirasakan.
Sejumlah penelitian menunjukkan, kehidupan di kota membawa tekanan psikologis lebih tinggi. Penelitian dalam Journal of Family Sciences (IPB) menyebut, tingkat stres masyarakat perkotaan lebih tinggi dibanding perdesaan.
Kajian lain tentang ruang kota dan kesehatan mental juga menemukan hal yang sama. Kepadatan. Mobilitas tinggi. Tekanan ekonomi. Semuanya jadi pemicu.
Kota bukan cuma tumbuh. Tapi juga menekan. Macet. Padat. Persaingan. Biaya hidup. Datang bersamaan. Seperti masalah dalam hidup. Satu datang, lalu teman-temannya ikut.
PMKS, Wajah Lain Pertumbuhan Kota

Seperti di pusat Kota Serang. Di lampu-lampu merah, tumbuh yang lain. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Gelandangan. Pengemis. Anak jalanan. Manusia silver. Pengamen yang sekadar bunyi. Suara ke kanan. Musik ke kiri.
PMKS, menurut Permensos Nomor 8 Tahun 2012, adalah mereka yang karena hambatan sosial tidak dapat menjalankan fungsi sosialnya dan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup secara layak.
Di Kota Serang, siang hari, orang makin banyak, kendaraan makin padat, ruang makin sempit. Dan di titik-titik itu, semuanya bertemu. Pemkot membaca tanda-tanda itu. Tidak semua yang tumbuh itu yang baik.
PMKS salah satu yang tidak baik. Untuk mereka sendiri. Juga untuk pengendara. Imbauan disuarakan. Dengan pengeras suara. Jangan mengamen di jalan. Jangan mengemis. Pengendara juga diingatkan jangan memberi. Jangan sedekah di jalan.
Salurkan ke lembaga resmi. Perda lama digaungkan lagi. Perda Nomor 2 Tahun 2010. Tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit masyarakat.
Perda yang sudah 16 tahun. Sanksinya jelas. 3 bulan kurungan. Denda sampai Rp50 juta. Bagus. Tapi jujur saja, saya belum pernah dengar ada yang benar-benar kena. Yang mengemis. Yang mengamen. Manusia silver. Anak jalanan. Atau bahkan yang memberi.
Mungkin saya yang lupa. Kudet. Atau memang belum pernah ada. Kalau memang tidak ada, perda itu hanya jadi dokumen. Portofolio DPRD.Hasilnya bisa ditebak. PMKS makin tumbuh. Lalu, petugas lelah. Menyerah.
Kita butuh konsistensi. Menggaungkan.Menyosialisasikan. Tidak hanya di jalan. Masuk ke perumahan. Ke kampung. Tegakkan. Yang melanggar, beri sanksi.
Jangan Dibiarkan Menjadi Kebiasaan
Dinas Sosial tidak bisa sendiri. Satpol PP harus bergerak. Bersama. Dan satu hal penting, tidak semua PMKS itu sama. Yang tidak punya pekerjaan. Yang tidak punya rumah. Ada juga yang tidak punya keduanya. Ada yang jiwanya sakit. Tidak mau kerja. Tidak bisa disuruh kerja. Mengemis. Masukkan ke rehabilitasi. Yang lain? Bisa diarahkan. Dilatih.
Belum selesai. Di tiap lampu merah, tempatkan petugas. Tujuh hari. 24 jam. Jangan ditinggalkan. Sampai hilang. Sampai semua sadar. Karena kesadaran tidak bisa ditunggu. Harus dipaksa. Jika diam, sama seperti menunggu lebaran monyet.
Lebaran yang tidak pernah ada. Serang kini sedang tumbuh. Yang tumbuh tidak hanya satu. Kotanya tumbuh. Kendaraannya iya. PMKS-nya juga iya. Dan satu lagi yang jangan sampai tidak tumbuh: keberanian menertibkan.