Lebak, Bantentv.com – Bulan suci Ramadan identik dengan ragam menu takjil berbuka puasa. Salah satu yang nyaris tak pernah absen di meja makan adalah kolang-kaling, atau buah aren berwarna putih kenyal yang kerap menjadi buruan warga untuk menu pelengkap kolak pisang, es campur, hingga manisan. Namun, kelangkaan bahan baku tahun ini membuat produksi kolang-kaling menurun signifikan dan harga jual mengalami kenaikan.
Di Kabupaten Lebak, pohon aren tumbuh subur di sejumlah wilayah. Kondisi ini dimanfaatkan sebagian warga untuk menjadi perajin kolang-kaling musiman, terutama selama Ramadan, guna menambah penghasilan keluarga.
Salah satunya Subrata atau yang akrab disapa Mang Ato, warga Kampung Cibulung, Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak. Aktivitas produksi mulai meningkat memasuki sepekan awal Ramadan. Bersama istri dan mertuanya, Mang Ato disibukkan mengolah buah aren secara tradisional untuk dijual dengan cara berkeliling kampung menggunakan sepeda motor.
Baca Juga: Kolang-Kaling, Hidangan Ramadan yang Memiliki Manfaat untuk Kesehatan
Proses pembuatan kolang-kaling diawali dengan merebus buah aren di atas tungku bara api selama kurang lebih dua jam untuk menghilangkan getah. Setelah itu, buah diangkat, dibelah, dan diambil dagingnya. Daging buah kemudian dipipihkan satu per satu dengan cara ditumbuk, lalu direndam dalam air selama dua hari hingga bersih dan teksturnya lebih kenyal.
Perajin kolang-kaling, Subrata, mengaku telah menekuni usaha musiman ini selama kurang lebih 10 tahun. Pada hari-hari biasa, ia berprofesi sebagai pelangsir kayu. Namun setiap bulan puasa, ia kembali memproduksi kolang-kaling untuk memenuhi permintaan warga.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Mang Ato membeli buah aren dari warga sekitar. Namun pada tahun ini, pasokan buah aren sulit diperoleh karena tanaman tersebut belum memasuki masa panen.
Baca Juga: Berkah Perajin Kolang-Kaling Jelang Ramadan
Harga bahan baku pun bervariasi, mulai dari Rp100.000 hingga Rp400.000 per batang, tergantung kualitas dan ketersediaan. Kondisi kelangkaan tersebut berdampak langsung pada harga jual kolang-kaling di tingkat perajin.
“Pasokan buah aren tahun ini sulit didapat karena belum masuk masa panen, sehingga harga bahan baku ikut naik dan berdampak pada harga jual kolang-kaling,” ujar Subrata, perajin kolang-kaling asal Lebak.
Untuk saat ini, harga kolang-kaling mencapai Rp12.000 per kilogram. Padahal pada tahun sebelumnya, ketika pasokan melimpah, harga hanya berkisar Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram.
Meski keuntungan yang diperoleh tidak menentu, Mang Ato mengaku hasil penjualan kolang-kaling musiman ini cukup membantu memenuhi kebutuhan selama Ramadan hingga menjelang Lebaran.
Editor : Erina Faiha