Bantentv.com – Pada 17 Februari 2026, langit Bumi akan dihiasi fenomena astronomi langka berupa gerhana matahari cincin. Namun, peristiwa yang dikenal sebagai “cincin api” ini tidak bisa disaksikan dari Indonesia. Hal ini terjadi karena jalur gerhana hanya melintasi wilayah paling selatan Bumi.
Informasi ini dirangkum dari berbagai sumber astronomi internasional dan publikasi sains global. Sumber tersebut menjelaskan bahwa gerhana matahari cincin terjadi ketika Bulan berada pada jarak terlalu jauh untuk menutupi Matahari sepenuhnya.
Fenomena ini pada 17 Februari 2026 hanya dapat diamati secara optimal dari wilayah Antartika dan perairan Samudra Selatan.
Sementara itu, sebagian wilayah selatan Amerika Selatan, Afrika bagian selatan, serta beberapa area Samudra Pasifik dan Hindia hanya akan menyaksikan gerhana sebagian.
Sejumlah stasiun penelitian ilmiah di Antartika menjadi lokasi utama pengamatan. Di antaranya Stasiun Concordia (Prancis–Italia) dan Stasiun Mirny milik Rusia.
Stasiun McMurdo, pangkalan penelitian Amerika Serikat, diperkirakan akan mengalami gerhana parsial dalam, dengan Matahari tertutup Bulan hingga sekitar 86 persen.
Secara waktu, gerhana ini berlangsung cukup panjang. Proses gerhana parsial dimulai sekitar pukul 09.56 UTC dan mencapai puncaknya pada pukul 12.12 UTC. Fase cincin api sendiri hanya berlangsung sekitar dua menit, sebelum gerhana berakhir pada pukul 14.27 UTC.
Gerhana ini terjadi beberapa hari setelah Bulan berada di titik apogee, yaitu jarak terjauhnya dari Bumi. Karena itu, Bulan tampak lebih kecil dan tidak mampu menutupi Matahari secara total. Gerhana matahari cincin juga tidak pernah aman untuk diamati tanpa pelindung mata khusus.
Baca Juga: Fakta Menarik Tentang Gerhana Bulan Total
Meski tidak dapat dinikmati dari Indonesia, fenomena ini tetap menjadi pengingat menarik tentang keteraturan gerak Bulan dan Matahari.
Selain itu, fenomena ini juga menunjukkan bahwa tidak semua peristiwa langit spektakuler bisa disaksikan dari setiap wilayah Bumi.