BerandaBeritaAkses Terputus, Warga di Mandalawangi Bangun Jembatan Bambu

Akses Terputus, Warga di Mandalawangi Bangun Jembatan Bambu

Saluran WhatsApp

Pandeglang, Bantentv.com – Semangat gotong royong ditunjukkan oleh warga Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang. Pasca ambruknya Jembatan Cisaat pada Sabtu, 1 Februari 2026 lalu, warga Desa Sinarjaya bersama-sama membangun jembatan darurat secara swadaya demi menyambung kembali akses yang sempat lumpuh total.

Jembatan darurat ini dibuat menggunakan material seadanya seperti batang bambu dan pohon pinang.

Meski sederhana, jembatan ini menjadi “napas” baru agar pejalan kaki dan kendaraan roda dua bisa melintas, terutama bagi anak-anak sekolah dan warga yang ingin bekerja.

Ambruknya Jembatan Cisaat bukan perkara kecil. Tercatat ada ribuan warga dari empat desa yang sempat terisolir karena jembatan tersebut merupakan akses vital menuju fasilitas publik.

Baca Juga: Kesal Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Juhut Pandeglang Turun Tangan Perbaiki Jalan Rusak Secara Swadaya

Salah seorang warga, Sulbi Wataroib, mengungkapkan bahwa langkah ini terpaksa diambil karena masyarakat tidak bisa menunggu terlalu lama dalam ketidakpastian.

“Kami terpaksa buat jembatan darurat karena akses jalan ini sangat dibutuhkan. Anak-anak harus sekolah, warga harus ke pasar dan bekerja. Kalau tidak ada jembatan ini, aktivitas kami mati total. Bahannya pakai bambu karena sifatnya sementara,” ujar Sulbi Kamis, 5 Februari 2026.

Warga di Mandalawangi Bangun Jembatan Bambu
Warga di Mandalawangi Bangun Jembatan Bambu

Kepala Desa Sinarjaya, Dendi Alfian, membenarkan bahwa kondisi jembatan tersebut memang sudah tua. Ditambah dengan intensitas curah hujan yang tinggi pada awal Februari lalu, struktur jembatan akhirnya tidak kuat menahan beban dan ambruk.

Pihak desa mengaku tidak tinggal diam dan telah menempuh jalur formal untuk perbaikan jangka panjang.

“Kami sedang melakukan gotong royong antar kampung nersama warga, sambil kita menunggu jembatan permanen. Sementara swadaya dulu. Jalan ini memghubungkan empat desa, sehingga jembatan ini sangat vital. Yang kita prioritaskan adalah untuk pejalan kaki, adapun kendaraan roda dua juga masih bisa dilewati, namun Untuk roda 4 jelas belum bisa dilewati,” kata Dendi saat dilokasi Kamis, 5 Februari 2026.

Warga berharap aksi swadaya ini mendapat perhatian serius dari pemerintah agar jembatan permanen segera dibangun. Bagaimanapun, jembatan bambu memiliki batas usia dan keamanan yang minim bagi mobilitas warga yang sangat tinggi.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT
- Advertisment -