Lebak, Bantentv.com – Kisah kemanusiaan menghangatkan hati terlihat di Kampung Turus Elor, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak. Puluhan warga secara sukarela bergotong royong membongkar rumah reyot milik Kanapiah (52), seorang janda dengan enam anak yang selama 20 tahun hidup dalam kondisi serba kekurangan.
Sejak pagi, warga terlihat menurunkan genteng, mencabut papan lapuk, dan membongkar balok penyangga bangunan yang nyaris roboh.
Di sisi lain, kelompok lainnya mulai menyusun kerangka rumah baru dari bahan yang dikumpulkan secara swadaya, mulai dari kayu, bambu, paku, hingga dana kas kampung.
Saen (45), warga yang terlibat langsung dalam pembangunan, menyampaikan bahwa inisiatif ini murni lahir dari solidaritas warga tanpa adanya target donasi khusus.
Baca Juga: Suami Sakit, Istri Jadi Pemulung: Ini Kisah Warga Lebak yang Tinggal di Rumah Reyot
“Kami kumpulkan bantuan seikhlasnya, baik kayu, bambu, maupun uang. Alhamdulillah sudah terkumpul lebih dari Rp6 juta,” ujarnya.
Menurut Saen, kondisi rumah Kanapiah sudah sangat mengkhawatirkan dan berpotensi ambruk dalam beberapa bulan ke depan.
Aksi gotong royong ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap tetangga yang hidupnya serba sulit.
“Selain soal kebersamaan, ini bentuk kepedulian kami. Tetangga kami tidak mampu, maka kami bantu semampunya,” tambahnya.
Meski warga telah berupaya maksimal, mereka berharap pemerintah bisa ikut membantu agar pembangunan berjalan tuntas. “Kalau pemerintah mau ikut membantu, kami sangat terbuka,” ujarnya.
Penghasilan Buruh Padi yang Tidak Menentu
Baca Juga: Hidup di Rumah Reyot, Janda di Serang Harapkan Bantuan Pemerintah
Di tengah aktivitas warga, Kanapiah hanya bisa menahan haru. Selama dua dekade ia tinggal di rumah yang hampir roboh sejak suaminya meninggal dunia. Kini, ia membesarkan enam anaknya seorang diri.
“Suami saya sudah lama meninggal. Saya sedih dan takut rumah ini roboh menimpa kami. Anak-anak juga sering takut,” ungkapnya.
Untuk menyambung hidup, janda enam anak itu bekerja sebagai buruh tanam padi dengan penghasilan sekitar Rp20.000 per hari, itu pun hanya saat musim tanam.
Penghasilan tersebut jauh dari cukup untuk menopang kebutuhan keluarga, apalagi salah satu anaknya masih duduk di bangku kelas 4 SD.
“Kalau tidak ada musim tanam, saya hanya bisa pasrah. Penghasilan saya sedikit, sementara kebutuhan anak-anak banyak,” tuturnya lirih.
Warga berharap gotong royong ini menjadi awal perubahan bagi kehidupan Kanapiah dan keluarganya, sembari menanti perhatian dari pemerintah daerah agar pembangunan rumah dapat terselesaikan secara layak dan aman.