Bantentv.com – Iran dan Amerika memanas. Orang langsung bicara perang. Lalu tiba-tiba harga kantong plastik naik. Pertanyaannya sederhana: apa hubungannya? Kalau harga BBM naik, orang tidak heran. Logikanya jelas. Minyak, impor, Timur Tengah.
Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Selat Hormuz yang sering disebut-sebut itu memang jalur penting. Walau faktanya, minyak yang lewat sana sekitar 20 persen saja. Artinya 80 persen pasokan minyak dunia tidak lewat Timur Tengah.
Tapi setiap kali kawasan itu memanas, harga energi tetap ikut goyang. Karena pasar bukan cuma soal fakta. Tapi juga soal rasa takut. Nah, dari sini kita masuk ke hal yang jarang dibahas. Yaitu plastik.
Banyak yang tidak sadar. Plastik itu bukan sekadar barang murah yang kita pakai setiap hari. Dia turunan dari minyak. Namanya Nafta.
Dari nafta inilah diolah menjadi kantong kresek, plastik kemasan, botol minuman, sachet kopi dan sampo, sampai styrofoam.
Sederhananya, minyak naik, nafta ikut naik, plastik ikut mahal. Hal ini juga diakui oleh Lukman Hakim. Direktur PT Pancabudi Idaman Tbk.
Ia menyebut, kenaikan harga plastik terjadi karena harga nafta naik akibat konflik Iran–Amerika.
Perusahaannya menguasai sekitar 35 persen pasar kantong plastik di Indonesia.
Pabriknya tersebar di Tangerang, Pemalang, Solo, Medan, sampai Batam. Dan yang menarik, produk mereka itu bukan sesuatu yang jauh dari kita. Justru sangat dekat.
Kalau ke pasar, kita sering lihat merek Tomat, Cabe, Jeruk, Bangkuang, Wayang, Sparta. Bahkan yang sederhana seperti 222. Itu bukan sekadar plastik.
Itu hasil industri besar yang sudah puluhan tahun mengisi pasar kita. Jadi ketika harga plastik naik, yang terdampak bukan cuma pabrik. Tapi langsung ke pedagang, pembeli, dan dapur rumah tangga. Harapannya memang sederhana perang selesai, harga turun, plastik kembali murah.
Tapi di sini kita perlu jujur. Kalau plastik kembali murah, apakah kita akan kembali seperti dulu? Karena masalahnya bukan harga. Masalahnya kebiasaan.
Darurat Sampah Plastik

Indonesia mengonsumsi plastik sekitar 8,2 juta ton per tahun. Sampah plastiknya sekitar 12 juta ton.
Di Banten saja, dengan sekitar 2,4 juta rumah tangga, kalau tiap rumah pakai 2 plastik per hari, dalam setahun bisa tembus 1,7 miliar plastik. Dan kita masih bilang ini hal kecil.
Padahal, aturan sudah banyak. Di pusat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah mengeluarkan Permen LHK No. 75 Tahun 2019. Targetnya jelas. Yaitu pengurangan sampah oleh produsen hingga 30 persen pada 2029.
Di daerah, juga sudah jalan. Banjarmasin (Perwali 2016). Bali (Pergub 2018). Jakarta (Pergub 2019, efektif 2020). Bogor (Perwali 2018). Bekasi (Perwali 2018 & 2019). Artinya, aturan ada. Contoh ada. Hasil juga sudah ada. Yang belum? Kita.
Di tengah kondisi ini, Sekjen IKAPPI, Reynaldi Sarijowan, mengingatkan, ini momentum untuk mengurangi plastik di pasar. Dan mulailah pakai tas belanja alternatif. Karena pasar itu jantung plastik.
Dari sayur, ikan, sampai bumbu. Semua ujungnya plastik. Jadi mungkin kita harus jujur. Kita ini bukan kekurangan aturan. kita kekurangan gerakan.
Solusinya tidak rumit. Tidak perlu tunggu perang selesai. Tidak perlu tunggu aturan baru. Cukup satu.
Bawa kantong belanja sendiri. Kalau satu orang, kecil. Kalau jutaan orang? Itu bukan kebiasaan lagi. Itu gerakan.
Dan kalau gerakan itu diperkuat aturan pemerintah daerah, kita tidak lagi bicara kampanye. Kita bicara perubahan.
Jadi kalau hari ini plastik mahal, jangan cuma berharap harga turun. Karena harga plastik bisa saja kembali murah. Tapi kalau kita tetap sama, yang mahal nanti bukan plastiknya tapi masa depan kita. (Mashudi)