BerandaBeritaSempat Dilanda Banjir, Hasil Panen Timun Suri di Kramatwatu Kurang Maksimal

Sempat Dilanda Banjir, Hasil Panen Timun Suri di Kramatwatu Kurang Maksimal

Saluran WhatsApp

Serang, Bantentv.com – Timun suri menjadi salah satu buah yang selalu diminati, terutama saat bulan Ramadan. Buah timun suri kerap diburu masyarakat untuk dijadikan menu berbuka puasa.

Tingginya permintaan membuat timun suri hampir selalu laris di pasaran setiap memasuki bulan suci.

Namun, kualitas dan hasil panen timun suri sangat dipengaruhi faktor cuaca. Semakin panas kondisi cuaca, umumnya semakin baik pula buah yang dihasilkan.

Baca Juga: Diburu Saat Berbuka, Timun Suri di Lebak Justru Alami Penurunan Hasil

Tahun ini, kondisi alam justru menjadi tantangan tersendiri bagi para petani timun suri.

Di Desa Teluk Terate, Kecamatan Kramatwatu, sejumlah petani tampak beraktivitas seperti menabur pupuk, mencabut gulma, hingga memanen timun suri.

Meski Ramadan telah tiba, hasil panen timun suri belum sesuai harapan. Produksi yang dihasilkan mengalami penurunan dibandingkan musim sebelumnya.

Para petani memanfaatkan lahan industri yang tidak terpakai untuk menanam timun suri.

Hasil panen timun suri di Kramatwatu kurang maksimal karena sempat dilanda banjir (Bantentv.com/ Riki)
Hasil panen timun suri di Kramatwatu kurang maksimal karena sempat dilanda banjir (Bantentv.com/ Riki)

Namun, keterbatasan hasil panen membuat harga timun suri mengalami kenaikan. Untuk ukuran besar, harga saat ini mencapai Rp25.000 per buah, sementara harga normal biasanya berada di kisaran Rp15.000.

Salah seorang petani timun suri, Sohani, menjelaskan bahwa hasil panen tahun ini tidak maksimal karena lahan sempat terdampak banjir pada awal masa tanam. Kondisi tersebut menghambat pertumbuhan buah timun suri.

“Tidak seperti tahun sebelumnya. Di pertengahan bulan Januari kemarin lahan-lahan timun suri ini sempat terandam,” ungkapnya.

Keterbatasan produksi timun suri berdampak langsung pada harga jual di tingkat petani. Permintaan yang tinggi pada awal Ramadan membuat harga melonjak cukup signifikan.

“Biasanya satu ember cat ukuran 20 kilogram itu di harga Rp60.000 tapi sekarang tembus Rp110.000. Satu ember itu isinya bisa 10 sampai 20 tergantung ukuran buahnya,” ujarnya.

Sohani menambahkan, timun suri biasanya dipanen dua kali sehari, yakni pagi dan sore hari, setelah masa tanam mencapai dua bulan.

Pada kondisi cuaca panas, hasil panen bisa mencapai 10 ember cat per hari. Namun saat ini, jumlahnya hanya sekitar enam ember.

“Kalau lagi panas itu hasil panenya bisa sampai 10 ember cat. Sekarang paling hanya enam ember cat,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa para petani memanfaatkan lahan kosong milik PT Wilmar Nabati Indonesia untuk menanam timun suri. Sekitar 20 hektare lahan digunakan warga setempat untuk budidaya buah tersebut.

“Dari pada kosong, akhirnya warga sekitar memanfaatkan lokasi ini,” pungkasnya.

Editor Siti Anisatusshalihah
TERKAIT
- Advertisment -