Bantentv.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada awal perdagangan pekan ini. Pada Senin, 9 Maret 206 rupiah dibuka di posisi Rp16.981 per dolar AS.
Mengutip data dari Bloomberg, rupiah tercatat melemah sebesar 56 poin atau sekitar 0,33 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa rupiah masih berada di bawah tekanan di tengah dinamika ekonomi global yang belum stabil.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Sentuh Level Tertinggi Sejak 2022
Pelemahan rupiah tidak terlepas dari penguatan indeks dolar AS yang terus bergerak naik. Mata uang Amerika tersebut bahkan mendekati level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan terakhir.
Penguatan dolar terjadi seiring dengan lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus angka US$100 per barel.
Kenaikan harga energi tersebut dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Pergerakan Mata Uang Asia Bervariasi
Selain rupiah, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami pergerakan yang beragam pada perdagangan pagi ini.
Beberapa mata uang tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar AS, di antaranya:
- Yen Jepang (JPY) melemah 0,6 persen
- Dolar Singapura (SGD) melemah 0,5 persen
- Dolar Taiwan (TWD) melemah 0,59 persen
- Won Korea (KRW) melemah 0,92 persen
- Peso Filipina (PHP) melemah 1,11 persen
- Rupee India (INR) melemah 0,16 persen
- Yuan China (CNY) melemah 0,26 persen
- Ringgit Malaysia (MYR) melemah 0,48 persen
- Baht Thailand (THB) melemah 0,92 persen
Sementara itu, dolar Hongkong (HKD) justru tercatat menguat tipis sebesar 0,08 persen.
Mata Uang Eropa Bergerak Tidak Seragam
Di kawasan Eropa, pergerakan mata uang terhadap dolar AS juga terlihat tidak seragam. Beberapa mata uang berhasil menguat, sementara lainnya justru mengalami pelemahan.
Euro (EUR) dan pound sterling (GBP) tercatat sama-sama menguat sebesar 0,93 persen terhadap dolar AS.
Sebaliknya, beberapa mata uang lainnya mengalami tekanan, antara lain:
- Franc Swiss (CHF) melemah 0,79 persen
- Krona Swedia (SEK) melemah 1,33 persen
- Krona Denmark (DKK) melemah 0,93 persen
Pergerakan mata uang global tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi dan geopolitik masih memengaruhi pasar keuangan internasional.
Dalam kondisi seperti ini, rupiah bersama sejumlah mata uang negara berkembang lainnya masih berpotensi menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS.