Cilegon, Bantentv.com – Mogoknya penjualan daging sapi di Kota Cilegon berdampak langsung pada berhentinya aktivitas Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Tidak ada penyembelihan sapi karena pedagang memilih menghentikan penjualan.
Pantauan di RPH Kota Cilegon menunjukkan kondisi lengang tanpa aktivitas pemotongan. Situasi ini berdampak pada penerimaan retribusi harian daerah dari sektor penyembelihan hewan.
Kepala UPTD RPH Kota Cilegon, Wahyudi, mengatakan biasanya pihaknya memotong lima hingga sepuluh ekor sapi per hari. Setiap ekor dikenakan retribusi penyembelihan sebesar Rp40 ribu.
Baca Juga: Harga Daging Meroket, Pedagang di Cilegon Serentak Mogok Berjualan
“Dengan tidak adanya pemotongan, otomatis penerimaan retribusi harian ikut terhenti,” ujar Wahyudi, Senin 26 Januari 2026.
Ia menjelaskan sapi yang dipotong di RPH Cilegon umumnya merupakan sapi impor asal Australia.
Sapi tersebut dibeli pedagang dari perusahaan penggemukan sebelum dijual ke masyarakat.
“Aksi mogok pedagang daging sapi terjadi hampir di seluruh wilayah Provinsi Banten. Penyebabnya adalah kenaikan harga sapi yang dihitung berdasarkan bobot hidup,” jelasnya.
Baca Juga: Harga Daging Sapi Rp140 Ribu per Kilogram, Diskoumperindag Kabupaten Serang Nilai Masih Stabil
Menurut Wahyudi, saat ini harga sapi hidup dengan bobot sekitar 250 kilogram mencapai Rp59 juta. Harga tersebut belum termasuk biaya transportasi dan jasa pemotongan, sementara harga normal sebelumnya sekitar Rp53 juta.
Kondisi ini membuat pedagang menilai harga jual daging tidak sebanding dengan daya beli masyarakat. Akibatnya, penjualan dihentikan sementara hingga harga kembali stabil.