Cilegon, Bantentv.com – Sebuah masjid di Kota Cilegon memiliki nama yang unik, yakni Masjid Sumpah Terate Udik. Masjid ini merupakan masjid kuno yang dahulu dijadikan tempat untuk mengungkap kebenaran dari pihak yang dianggap tidak jujur pada masa Kesultanan Banten.
Masjid Sumpah Terate Udik disebut sebagai salah satu masjid tertua yang dibangun pada masa kejayaan Kesultanan Banten, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin periode 1552 hingga 1570 Masehi atau sekitar tahun 470 Hijriyah.
Menurut tokoh masyarakat setempat, Haerullah, masjid unik yang dinamai Masjid Sumpah ini selain dijadikan sebagai tempat ibadah bagi masyarakat sekitar, juga digunakan sebagai tempat bersumpah untuk mengungkap kebenaran dari pihak yang dianggap tidak jujur.
“Kalau disebut masjid sumpah di sini yaitu ada permasalahan warga perselisihan jadi zaman dahulu tentang masalah sengketa tanah jadi itu terjadi sumpah di masjid sini,” ujar Haerullah.
Baca Juga: Ratusan Ikan di Danau Situ Terate Mati
Pada masa Kesultanan Banten, masyarakat yang berselisih karena persoalan ketidakjujuran akan dipertemukan di masjid ini untuk dilakukan musyawarah. Jika salah satu pihak tetap menyangkal, maka proses sumpah menjadi jalan terakhir untuk mengungkap kebenaran. Hingga kini, masjid tersebut masih digunakan sebagai tempat bersumpah.
“Zaman dahulu masjid ini buat musyawarah tentang kesultanan Banten sebelum mereka ini, para sultan ini menyebarkan agama Islam,” kata Haerullah tokoh masyarakat.
Bahkan, Haerullah menegaskan bahwa proses pengambilan sumpah tidak dilakukan secara sembarangan bagi masyarakat yang berselisih. Hal ini karena dipercaya akan terjadi malapetaka apabila orang yang melakukan sumpah tersebut berbohong, baik pada saat itu juga maupun di kemudian hari.
Sebelumnya, Masjid Sumpah Terate Udik yang memiliki mimbar dengan bangunan bergaya kuno seperti masjid-masjid di Nusantara pada umumnya ini juga pernah digunakan sebagai tempat berdiskusi serta meluruskan niat para tokoh penyebaran agama Islam sebelum berdakwah ke berbagai daerah pada masa Kesultanan Banten.
Editor : Erina Faiha